Second Love (Slow Update)

Second Love (Slow Update)

  • WpView
    Reads 950
  • WpVote
    Votes 79
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 24, 2020
Bela seketika mengentikan aksinya. Ia beralih menatap Dafa. Dari tatapan mata Cowok itu menandakan adanya ketulusan. "Iyah. Itu gue" lirih Bela. Menatap ke arah lain. Tanpa disadari Bela, Dafa membuat pergerakan yang tidak di sangka. Seketika Bela reflek memundurkan tubuhnya saat Dafa mendekat kearahnya. Sampai tubuhnya bertemu dengan tembok yang ada di belakangnya. Dafa terus menatap Bela dan memajukan wajahnya. Mata mereka beradu. Bahkan Bela dapat merasakan hembusan nafas Dafa yang dekat sekali dengan wajahnya. Sebelah tangannya mengunci pergerakan gadis itu. Jantung keduanya berdebar seakan ingin keluar. Sekali lagi Dafa mendekatkan wajahnya pada Bela. Bela menahan nafasnya serta memejamkan matanya. "Mulai sekarang Lo cewek gue. Dan gue nggak terima penolakan" bisik Dafa lalu memundurkan tubuhnya memberi jarak diantara mereka. Meskipun cerita ini memiliki banyak kesamaan, tapi cerita ini aku buat bener-bener dari pikiran aku sendiri loh. Semoga berkenan yahh. Selamat membaca 😁😁
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Rasya Vs Rasyid [END]
  • Behind The Smile
  • Queen And Her Devil Boy {Completed)
  • Albel
  • Essentialy Love (SELESAI)
  • Ayesha Transmigration
  • LABIL

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines