Mas Blangkon & Ning Ogah

Mas Blangkon & Ning Ogah

  • WpView
    LECTURAS 29
  • WpVote
    Votos 8
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadConcluida sáb, oct 12, 2019
"Assalamu'alaikum, Neng!" "Bagaimana kabar?" "Baik-baik saja keluarga?" Raden menyapa dengan sopan, namun tak ada jawaban dari si Ening yang sedang sibuk menata rengginang di dalam toples kaca di meja tamu. Dalam batin Raden selalu dihantui rasa takut, kalau-kalau Ening tersinggung, marah, merasa gak nyaman atau merasa dirusuhi. sedikit langkahnya mundur lalu, membalikkan badan hendak keluar. "Yaudah, kalo' gamau diganggu aku pergi saja," "sekali lagi, mas minta maaf ya Ning," gumamnya sambil melangkahkan kaki ke pintu, lalu mengucap salam. "Assalamu'alaikum." Raden keluar dengan perasaan kecewa berat. Tidak hanya kali ini ia merasa kecewa dan menyesal. Hari-hari sebelumnya Raden sering merasakan seperti ini. Sejak Raden bercanda berlebihan dan dengan penuh percaya diri Raden mengungkapkan perasaannya kepada si Ening. Sontak saja Ning yang masih usia belasan tahun itu tercengang dan syok berat. Raden yang selama ini dianggap sebagai kakaknya sendiri sekaligus pembimbing belajar, ternyata memendam rasa kepadanya. Berulang-ulang Raden meminta maaf dan seolah meralat kalau itu cuma candaan saja. Sementara Raden terus menutupi perasaannya dengan penuh rasa kecewa dan menyesal yang semakin bertambah. Permohonan maaf pertama yang Raden lakukan ialah mengajak Ning jalan-jalan sambil beli makanan kesukaannya ditambah traktiran es krim "Sunday" di kedai Mc D plasa dekat alun-alun. Namun Ening beralasan sibuk banyak PR. Dari situ Raden tahu kalau si Ning ogah jalan lagi sama Raden. Ada upaya yang kedua, ketiga dan itulah terakhir.. [Simak saja kelanjutan ceritanya...]
Todos los derechos reservados
#91
perdana
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • tentang sebuah rasa
  • AFTER WEDDING - TERBIT
  • FADING IN YOUR ARM [YEOJONG]
  • Not The Wrong
  • Become Baby Boy✓
  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • STRUGGLE [End]

"Lo belum jawab pertanyaan gue! Kenapa Lo Nerima perjodohan itu?" Tanya raka dengan nada dingin. "Karena....karena aku gak mau durhaka sama kedua orangtua. Apapun yang mereka inginkan kalo aku mampu pasti aku turutin." Ucap Zahra sambil terus menunduk atau melihat ke arah lain. "Sekalipun Lo harus ngorbanin masa depan Lo?" Tanya raka dengan tersenyum kecut. Sedangkan Zahra hanya diam. "Harusnya Lo bisa nolak baik baik. Kalo Lo nolak otomatis perjodohan ini gak akan terjadi! Gue itu enggak mau nikah sama Lo! Harusnya Lo ngertiin gue." Ucap Raka yang mulai marah. "Tapi kenapa harus aku yang nolak? Kalo kamu gak mau, kenapa kamu terima juga? Kamu juga bisa nolak kan?" Tanya Zahra yang tidak habis pikir dengan ucapan Raka yang seakan menyalahkan diri nya. "Tapi gue gak bisa! Kalo gue nolak semua fasilitas gue bakal disita. Ngerti gak sih Lo?" Ucap Raka sengit. "Harusnya juga kamu ngertiin posisi aku. Dan aku cuman gak mau jadi anak durhaka. Udah itu aja!" Jawab Zahra berusaha sabar. Raka mengusap wajah nya kasar lalu kembali menatap tajam zahra. "Gue pastiin Lo bakal nyesel nikah sama gue! Camkan itu!" Ucap Raka lalu bergegas pergi keluar kelas dengan membuka pintu nya kasar. Zahra hanya beristighfar menghadapi sikap Raka yang ternyata seperti ini. Gimana kelanjutan ceritanya? Yok! Langsung aja baca ya guys🤗

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido