Pesandra Rindu

Pesandra Rindu

  • WpView
    Reads 690
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 5, 2024
Hari yang membosankan selalu datang pada seorang tarissa kania putri. Ketersendirian selalu menemaninya,kesepian selalu bersamanya,dan kebosanan selalu disampingnya. Tampaknya kelas sangat ramai dengan perbincangan kelompok yang sedang berbicara,entah apa yang mereka bicarakan,entah itu soal pelajaran,ataupun apalah itu yang mereka B*C*Tkan. Hanya seorang tarissa yang sedang terduduk sendiri melamun diujung bangku belangkang. Setiap harinyaa ia tak pernah luput dari ketersendirian. Hanya ditemani oleh securing kertas dan pena. Rasanya bagaikan diam disuatu lembah curam bagi tarissa, hidupnya di sekolah bagaikan hidup seribu tahun. Tak hanya di sekolah, kepedihan yang dialami seorang Tarissa Kania Putri terjadi di kehidupan berwarga di salah satu komplek yang ada di bandung. Sangat sia sia kebaikan Tarissa kepada sang teman yang ia puji puji. Mau tau lebih lanjut? Yuk bacaa😉
All Rights Reserved
#3
bersedih
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • MY HOPE IS YOU (END)
  • Syakila
  • DAMARA ✓
  • WISHES.
  • BROKEN HEART [END]
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • Meneroka Jiwa 2

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines