puisi

puisi

  • WpView
    LECTURAS 34
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, oct 10, 2019
Alam Mentari pagi mengetuk kaca jendela beri sinar kehangatan lewat pancarannya Di sambut burung yang bersenandung ria Yang membuatku mengarjapkan mata Ku lihat bunga bermekaran Memberi kesan kebahagian Dengan penuh perasaan Kini lupa akan penderitaan Ohhh...alam terpujiii Kau penghidup utama kami Kau beri kami oksigen yang tak terhenti Kau lindungi kami Semua ini hanya tentangmu Kini ku bergantung padamu Takkan ku biarkan manusia itu merusakmu Hingga titik darah penghabisan ku lindungi alammu
Todos los derechos reservados
#644
puisiku
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Renjana
  • From Me in Somewhere
  • Surat si Perindu Langit [REVISI] ✓
  • Pagi
  • Dia Semesta
  • Seventeen
  • Highway 1009 ||Sim Jaeyun - Jake|| (TERBIT)
  • Setulus Rasa Untuk Kehidupan
  • From Leiden

semua kisahku bermula saat pertama engkau hadir dihadapan mataku. wajah itu tak pernah hilang dari bayangan anganku. selalu menghanyut senyummu dalam kalbuku. semua kisah puisi hanya menggambarkan tentang keindahan dirimu. tak pernah bosan tanganku menulis untukmu. tak pernah lelah jemariku melukiskan indahnya parasmu. sinar mentari,tiupan angin,desiran rumput,kemersik daun,kicauan burung,gemercik air, bag menggambarkan pesona indah parasmu. alunan seruling bambu,senduh dentingan gitar, terus mengiringi merdu suaramu dalam relung hatiku. tak pernah lupa selalu terngiang dalam kepalaku " bang Ar!". setiap saat, setiap hari, aku berusaha selalu ada untukmu. menjagamu sekeras apa pun, membimbingmu sejauh apa pun, menuntunmu sesulit apa pun. bagai sepasang merpati yang selalu terbang beriringan, bagai sepasang kelinci yang selalu melompat bersamaan. namun, aku hanyalah akar untukmu. yang menopangmu, menjaga agar kau tetap berdiri.namun, aku hanyalah aliran air untukmu. yang menjadi wadah untukmu berenang semakin jauh. senyummu adalah bahagia untukku, namun tangismu bukanlah sedihku. karena aku harus kuat untuk membuatmu tersenyum sepanjang hari. hingga kau melantunkan suara merdumu "bang Ar!". namun, bagai dentuman guntur di siang bolong, bagai derasnya hujan di panas terik. semua berubah karena ke egoisanku. karenaku, bunga yang indah mekar kini layu dan gugur. karenaku, angin sepoi peniup melodi kini menjadi badai topan yang ganas. yang tinggal hanya dentingan pedang yang beradu, hanya desingan peluru yang memburu. saling membekas luka, menyayat sembilu dalam relung hati. menjatuhkan merpati, membinasakan kelinci, menumpahkan darah di sepanjang perjalanan yang tersisa. kini hanya ada akar tanpa pohon, air tanpa ikan, dan selembar kertas putih. kini yang terbakar hanya amarah yang mengatakan "tolong jauhi aku!".

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido