Story cover for puisi by fazafr
puisi
  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
Ongoing, First published Oct 07, 2019
Alam 
 Mentari pagi mengetuk kaca jendela
beri sinar kehangatan lewat pancarannya
Di sambut burung yang bersenandung ria
Yang membuatku mengarjapkan mata

Ku lihat  bunga bermekaran
Memberi kesan kebahagian
Dengan penuh perasaan
Kini lupa akan penderitaan

Ohhh...alam terpujiii
 Kau penghidup utama kami
Kau beri kami oksigen yang tak terhenti
Kau lindungi kami
    Semua ini hanya tentangmu
Kini ku bergantung padamu
Takkan ku biarkan manusia itu merusakmu
Hingga titik darah penghabisan ku lindungi alammu
All Rights Reserved
Sign up to add puisi to your library and receive updates
or
#149puisiku
Content Guidelines
You may also like
From Leiden by rzkaldea
3 parts Complete
Di luar hujan rintik membasahi bentaran langit dan rerumputan yang tumbuh disekitar halaman dan ayunan. Entah pertanda apa yang mengundang cuaca sesendu hatiku selama 6 tahun silam. Senyuman-senyuman indah sudah kewajiban tersendiri bagiku untuk orang-orang yang kusayang disekelilingku. Semakin lama aku mengunyah makanan semakin deras pula hujan yang menyapa. Seperti ada yang tertarik untukku berlama-lama melepaskan kerinduan tersendiri untuk sahabat lamaku. sepertinya Allah sedang menunjukkan kesedihanku lewat cuaca. "Assalamuallaikum kio taufan." tiba-tiba suara pria mengetuk pintu rumah mereka. "Siapa itu hujan hujan bang?." tanya kiori dengan suaminya yang dia mulai berdiri untuk menuju pintu. Lalu tangan taufan cepat meraih tangan kiori agar kiori tetap berada di meja makan tetapi niatnya kuhentikan karna kulihat wajah dan mata mereka saling beradu seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. "Biar aku saja taufan yang membuka pintunya, akukan sudah selesai makan kalian lanjutkan saja makannya" kuraih handphoneku agar dapat berkaca untuk membenahi jilbabku yang tadinya rusak kurasa. Lalu ku buka pintu dengan pelan dan kulihat seseorang yang berdiri dihadapanku. "Asstaghfirullah Rifqy." bagaikan kilat yang menyambar jantungku, handphoneku pun terjatuh dari genggaman tanganku. "Dhe...a!" lalu dia berpaling dari hadapanku dan berlari di bawah derasnya hujan yang mengguyur halaman rumah sahabatku. berlalu menuju mobil dan sama sekali tidak mau melihatku. "Tunggu sebentar!" lalu kukejar dia mengarah mobilnya tetapi dengan tancap dia meninggalkanku dengan hujatan air hujan yang membasahi jilbab serta tubuhku, dibawah derasnya hujan yang menghujat perasaanku. Kutelungkupkan tangisanku dan rasa sesalku untuk mengejarnya, kulihat dengan samar alphard merah semakin meredup dan hilang di tikungan simpang empat. Tatap aku, rasakan tangisku rifqy....
You may also like
Slide 1 of 10
TAK SEINDAH JINGGA cover
The Velvet in Love ( Selesai ) cover
ROMANSA KATA cover
Kisah {Complete} cover
Setulus Rasa Untuk Kehidupan cover
Disegala Renungan cover
From Leiden cover
Pagi cover
Dia Semesta cover
Sasmita Nivriti cover

TAK SEINDAH JINGGA

5 parts Ongoing

Kamu sama persis dengan matahari di kala senja. Keindahan yang tidak akan bosan untuk di nikmati. Aku terlalu larut dengan keindahannya hingga melupakan jika matahari akan sulit untuk di gapai, bahkan jika aku bisa, maka aku akan kesakitan karena panasnya. Tidak, aku tidak sedang menyalahkanmu. Hanya saja, aku kurang suka dengan konteks alam semesta yang menjauhkanku darimu.