"Aku layaknya Katana yang mata pedangnya terbalik. Semakin banyak menyerang, semakin melukai diriku sendiri." Begitulah Meila Maharani memahami cintanya. Tapi walaupun begitu menderita dengan rasa hina kepada dirinya sendiri, dia masih tidak bisa menyerah akan cintanya.
Dia menerima rasa hina itu, dia menerima rasa sakit dalam hatinya, dia menerima kecemburuannya, dia menerima kemarahannya, tapi tidak akan pernah menyerah akan seorang Delano Andreas G. 'tidak akan pernah, jangan harap!'.
Itu adalah bulan Juni dimana kata Sapardi Djoko Damono hujan di bulan itu ....
'Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu'.
Dalam potongan puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni itu, aku menangkap bayangan samar telapak kakiku yang berjalan di atas kerikil. Sekarang semakin ingin ku perjelas, gambaran itu semakin buram dan lalu menghilang.
***
Kuhapus keraguanku pada jalan yang kulewati menuju drinya, namun aku dihadang oleh kenyataan bahwa keyakinan tidak cukup untuk melanjutkan perjalanan ini,
Aku menunduk melihat kakiku yang telanjang tanpa alas, jari kaki yang penuh debu, tumit yang mulai biru. Aku tak lagi memaksakan diri, kali ini aku berhenti. Berjongkok dan memandang lurus ke depan, Kulihat dia semakin jauh, aku mengulurkan tangan. Aku berharap dia kembali dan meraihnya.
** Ini adalah karya pertamaku, apabila ada masukan tuliskan di kolom komentar. Terimakasih. 😉
❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku.
Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku.
Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina.
Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya.
Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik.
Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?