BUKAN BARBIE

BUKAN BARBIE

  • WpView
    LECTURES 36
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadContenu pour adultesTerminé sam., janv. 11, 2020
Inilah aku, berbeda dengan yang lain. Jika dibandingkan dengan barbie yang digadang-gadang menjadi visualisasi wanita yang sempurna, aku jauh berbeda. Rambutku hitam, tak berwarna seperti rambut barbie itu. Mataku tidak biru, hijau atau apapun warna cerah dan berbinar, hanya mata coklat biasa dengan binar yang redup. Hidungku tak selancip hidung-hidung lainnya. Bibir ini, bibir ini tak setipis dan seseksi bibir-bibir itu. Badanku tak sekurus, oh maaf maksudku tak selangsing wanita yang sempurna. Kakiku tidak begitu jenjang, kakiku bisa dikatakan cukup untuk tubuhku yang notabenenya termasuk dalam golongan tubuh yang pendek. Dan terakhir kulitku, tak seputih dan semulus barbie dan para wanita yang selalu memanjakan tubuhnya untuk perawatan. Namun satu hal yang mungkin kalian tahu namun kalian hiraukan. Aku memiliki perasaan yang tak sepantasnya kalian jatuhkan bahkan untuk di rendahkan Ibarat jangan menilai kehidupan seseorang dari luarnya, seperti itulah jalan cerita hidupku. "Jangan mengira-ngira, karena kalian tak tahu apa yang menjadi fakta."
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Breathe
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • Broken
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • SENANDIKA (Zeedel)
  • [ TERBIT ] Adikku adalah Istriku [SEASON 1 ] [TAMAT]
  • M E M O R Y  (On Going)
  • Home (Completed) (Repost)
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu