Me and Her

Me and Her

  • WpView
    reads 3
  • WpVote
    Stemmen 1
  • WpPart
    Delen 1
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd din, okt. 8, 2019
"Belum tidur?" aku menggeleng dan tersenyum kecil mendapati orang itu teryata bisa juga datang kemari. "Bagaimana mungkin?" orang itu tersenyum tipis dan membuat ku bingung dengan tingkahnya yang malah duduk di belakang ku. "Lewat mimpi" seakan mengerti tanpa harus ku jelaskan dengan pertanyaan itu. "Apa yang dia mimpikan sampai-sampai bisa mengeluarkan mu dari sana?" orang itu tertawa pelan dengan mata yang perlahan tertutup. "Menurut mu apa alasanya?" tanya ku frustasi, orang itu membuka matannya yang sempat terpejam lalu menatap langit dan menjentikan jarinya, awan-awan di atas langit menghilang. "Sejak kapan aku berada di tempat mu?" "Sejak kamu keluar dari kamar" Ia menyadari terkadang mereka terlihat berbeda, tapi tidak berbeda. Terlihat sama, tapi tidak sama
Alle rechten voorbehouden
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • Kuas,Cat dan Cinta
  • Eliinaa
  • only he is the one i want [ lilynn ]
  • Destiny ✓
  • Leo 2 : Soulmate? ✔
  • Melody Arthadiesa
  • LENATHAN (hiatus)
  • A Scratch For Sanguinis [Orine]

Aku bertemu degannya lagi. Ini sudah lama sekali, cukup lama untuk membuatku canggung untuk menyapanya. Sepuluh tahun yang lalu, aku gadis berkucir dua, dia anak yang berkaca mata. Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah orang yang tidak memperhatikan wajahnya dengan teliti dan sekarang aku menyadari bahwa dia adalah pemuda yang tampan dengan mata yang menarik di balik kaca matanya itu. "Hallo !!" sapaku padanya. Dia menatapku dengan kening berkerut. Aku menjadi lebih canggung lagi karena dia tidak mengenaliku. Aku bukan gadis menarik, aku juga bukan gadis yang pandai mengawali pembicaraan ataupun mengakhirinya. Kalaupun dia mengenali aku, mungkin dia akan pura-pura lupa. "Hallo !" balasnya kemudian dengan senyum yang canggung. "Apa kau masih mengingatku ?" tanyaku dengan tatapan menyelidik ke arahnya. Hujan sore ini menahan dia, aku dan beberapa orang lainnya di depan toko yang tidak kutemukan papan namanya. Aku pindah dari kota ini ke luar negeri sepuluh tahun yang lalu tapi sekarang aku kembali dan temanku tidak mengenaliku lagi. "Kau siapa ?" dia balik bertanya dengan nada yang canggung ke arahku. Sudah kuduga, dia lupa tentangku. Aku menatap sekeliling, aku pasti akan terlihat sangat lucu sekarang. "Aku bukan siapa-siapa, lupakan saja" jawabku dengan santai lalu kuakhiri dengan senyum kecil. Aku lebih suka cara ini, aku tidak akan memaksakan seorang yang tidak lagi mengingatku untuk mengenalimu. Aku lebih butuh seseorang yang akan mengatakan hallo bersamaan denganku karena itu berarti kami saling mengingat. Aku menatap ke langit lagi, hujannya masih belum berhenti tapi aku menjadi orang yang pertama meninggalkan tempat ini.

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen