"Boleh Aku Kecewa Tuhan?"

"Boleh Aku Kecewa Tuhan?"

  • WpView
    Reads 145
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadComplete Wed, Mar 11, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Cukup Tuhan! Cukup" Begitulah cara aku berontak, sesekali aku ingin mengakhiri semuanya. Aku menyapanya lalu memintanya untuk tetap ada disini, setelah beberapa kali aku mencoba mengikhlaskan semuanya lagi-lagi Tuhan menggagalkan dongeng senja yang aku bangun di tepi jendela ini Serayu di senja ini menyapa lelaki dengan mata sembabnya di pinggiran kota. Kevin dan crist bukan orang pertama yang aku perlihatkan bagaimana hancurnya hidupku setelah beberapa kali aku mengatakan "ini hanya candaan Tuhan". Iya! Aku butuh sandaran, aku butuh bahu setelah semuanya hancur berkeping-keping. Di bawah pohon tepat di pinggiran Jakarta aku kembali di ninabobokan dengan nada yang menakutkan, bukan untuk mengistirahatkan ku melainkan mengakhiri semua kesedihan di hari-hari lalu. Begitulah aku yang masih merayap mencari Bahu.
All Rights Reserved
#572
sadstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • Cahaya [COMPLETED]
  • My Beloved Enemy [Segera Terbit]
  • Tak Seimbang ✔
  • confused love
  • Me Or Your Religion
  • Asing kembali Asing🌜🌚

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines