Cinta, Tapi salah?

Cinta, Tapi salah?

  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 24, 2020
"Selamat datang, silahkan" sapanya sambil tersenyum Aku kemudian tak kalah ramah membalas senyumnya, walau hanya sejenak sebelum memutuskan untuk menundukkan wajahku. Hatiku rasanya bergetar. "Tidak, pokoknya harus dengan satu daerah, gak boleh dengan orang luar" titak ibunda ketika restu ku pinta. "Tapi ma, sudah cinta bagaimana?" balasku seraya memelas. "Pokoknya tetap tidak" ultimatumnya yang tak terbantahkan. Aku terdiam, kala restu untuk bersama mencoba memulai sebuah hubungan tak kunjung ku dapat. Alasannya sederhana, hanya "JARAK" yang kemudian menjadi penghalang. Lantas ketika aku jatuh cinta, apa salah? tanyaku dalam diam yang tiada pernah berkesudahan.
All Rights Reserved
#38
doktergigi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dokter Spesialis Mantan [ON GOING]
  • Nearlend
  • Ketukan Takdir
  • see you again
  • Maria Broken Heart To My Love(Slow Update)
  • Masa Sekolah Menengah Pertama
  • Restore Me | TAMAT✔
  • Perfect Of Love
  • Missed You
  • May I Love You?

"Yang nggak pernah benar-benar selesai, justru yang paling susah dilupakan." - Nayyara Tujuh tahun. Itu waktu yang Nayyara habiskan untuk mencoba sembuh-dari luka yang bahkan tak sempat diberi penutup. Luka yang diam-diam ia bawa sejak bangku kuliah kedokteran, hingga kini menyandang gelar spesialis. Luka bernama Adrian Baskara-mantan yang pergi tanpa kata, tanpa perpisahan. Hanya hilang. Begitu saja. Sialnya ketika ia merasa telah pulih, semesta mengajak bercanda. Sebuah mutasi mendadak menjatuhkannya dari puncak karier di rumah sakit elit Jakarta ke pelosok desa di Jawa Tengah. Desa asing yang lebih percaya ramuan dukun ketimbang resep dokter, lebih patuh pada mitos ketimbang medis. Nayyara datang sebagai penyintas-asing, tersesat, nyaris patah. Tapi ia bertahan. Ia belajar hidup dari nol. Ia kira, itu sudah cukup berat. Sampai... Adrian muncul. Kini pria itu berdiri di hadapannya-dengan senyum sabar, tatap mata yang dulu menenangkan, dan seorang anak kecil yang tak sengaja memanggilnya, "Ayah." Nayyara ingin pergi. Meninggalkan desa ini. Menjauh dari kenangan yang kembali bernyawa. Tapi hati bukan peta yang bisa digariskan lurus-lurus saja. Luka lama belum sembuh, rahasia lama belum selesai. Dan pertanyaan itu terus menghantui: Kenapa Adrian pergi tanpa pamit dulu? Dan... kalau cinta yang lama mati ternyata belum benar-benar terkubur, bisakah Nayyara mencintai lagi-tanpa takut patah untuk kedua kalinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines