Narina harusnya tahu bahwa lelaki yang mengambil figur sebagai suaminya itu tidak pernah sedikit pun berbelas kasih kepadanya. Ia juga harusnya cukup menyadari bahwa keberadaannya tidak akan sanggup untuk mengisi kerumpangan yang lelaki itu tak ingin genapi. Namun pada tatapan mata Sagara, Narina tenggelam. Bukan oleh kedalaman, melainkan oleh ketidaksesuaian yang menawarkan keamanan. Mereka tak selaras dengan tuannya. Seakan menyimpan bahasa yang tak akan fasih diterjemahkan. Ia ingin berteduh di sana. Bukan karena terlalu lelah, tetapi karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak tergesa-gesa membacanya, dan itu cukup membuatnya ingin tinggal sedikit lebih lama.
More details