Story cover for ONLY YOU.. by ajahhhrt
ONLY YOU..
  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Oct 11, 2019
Sebuah pertemuan yang tidak sengaja justru menjadi sebuah kisah cerita yang terus berlanjut..

yukk ikutin kisahnya..πŸ˜‰



prolog:


Vindi seorang murid pindahan dari SMA Antariksa berlari di sepanjang koridor sekolah baru nya karena ia terlambat untuk hari pertama masuk sekolah..tanpa di sengaja ia menabrak seorang cowok..


    "Bbrrruuukkk"

"eeeh sorry2 gue gak sengaja"ucap vindi


"hmm"gumam cowok yang di tabrak vindi tanpa melihat orang yang menabraknya lalu pergi meninggal vindi yang sedang menatap punggung cowok tersebut.


" Dingin banget tuh cowok "batin vindi

"oh iya gue udah telaatt"ucap vindi sambil menipuk jidatnya lalu menanjutkan langkahnya menuju ruang kepala sekolah..



jangan lupa comment and vote ya..😁

and maaf jika kata2nya kurang pas atau gimana soalnya ini cerita pertamaku..😁
mohon bantuannya..πŸ˜‰
All Rights Reserved
Sign up to add ONLY YOU.. to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Rindu Senin Pagi by Rizardila
25 parts Complete
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.
Ily3000 [COMPLETEDπŸ¦‹] by AyuLibrayanti
64 parts Complete
"π™ΆπšžπšŠ πšœπšžπšπšŠπš‘ πš‹πšŽπš›πšžπšœπšŠπš‘πšŠ πš–πšŽπš•πšžπš™πšŠπš”πšŠπš— πšπšŠπš—πš™πšŠ πš‘πšŠπš›πšžπšœ πš–πšŽπš–πš‹πšŽπš—πšŒπš’,πšπšŠπš™πš’ πš”πšŽπš—πšŠπš™πšŠ πš‘πšŠπšπš’ πš’πš—πš’ πšœπšŽπš•πšŠπš•πšž πš–πšŽπš—πš’πšžπš›πšžπš‘ 𝚐𝚞𝚊 πšžπš—πšπšžπš” πš–πšŽπš—πšŽπšπšŠπš™?" -π‘ƒπ‘’π‘™π‘Žπ‘›π‘”π‘–- *** "πšƒπšŽπš›πš—πš’πšŠπšπšŠ π™ΏπšŽπš•πšŠπš—πšπš’ πš‘πšŠπš—πš’πšŠ πš‹πšŠπš‘πšŠπš— πšπšŠπš›πšžπš‘πšŠπš— πšœπšŠπš“πšŠ πš‘πšŠπš‘πšŠ" ujarnya. "𝙸...πš’πš—πš’ πšπš’πšπšŠπš” πšœπšŽπš™πšŽπš›πšπš’ πš’πšŠπš—πš πšπš’πšπšŽπš—πšπšŠπš› π™ΏπšŽπš•πšŠπš—πšπš’" Langit mencoba untuk menjelaskan. "π™ΏπšŽπš•πšŠπš—πšπš’ πšπšŽπš›πš•πšŠπš—πš“πšžπš› πš”πšŽπšŒπšŽπš πšŠ πš”πšŠπš”" ucap gadis itu sambil menghapus air matanya yang sudah merembes di pipi mulusnya. *** "π™ΊπšŠπš” π™²πš•πš˜πšžπšπš’ πš™πšŠπš”πšŽ πš™πšŽπš•πšŽπš πšŠπš™πšŠπšœπš’πš‘?! π™ΏπšŠπšπšŠπš‘πšŠπš• πš”πšŠπš•πš’πšŠπš— πš–πšŠπš—πšπšŠπš—?!" "πšƒπšŽπš—πšŠπš—πšπš’πš— πšπš’πš›πš’πš–πšž π™ΏπšŽπš•πšŠπš—πšπš’" Langit mendadak panik melihat Pelangi semarah itu. "π™±πšžπšŠπš πšŠπš™πšŠ πš”πšŠπš”?! π™±πšžπšŠπš πšŠπš™πšŠ?! π™ΏπšŽπš•πšŠπš—πšπš’ πšŒπšŠπš™πšŽπš” πš”πšŠπš”!" teriak Pelangi frustasi. **** "πš‚πšŽπš–πšŠπš”πš’πš— πš–πšŽπš—πšπš‘πš’πš—πšπšŠπš› πšπšŠπš›πš’ πš™πšŽπš›πšŠπšœπšŠπšŠπš—,πš–πšŠπš”πšŠ πš™πšŽπš›πšŠπšœπšŠπšŠπš— πš’πšπšž πšœπšŽπš–πšŠπš”πš’πš— πš‘πšŠπšπš’πš›" -π“˜π“΅π”‚3000 **** π»π‘Žπ‘π‘π‘¦ π‘…π‘’π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘” π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜-π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜πŸ–€πŸ–€πŸ–€
You may also like
Slide 1 of 10
Rindu Senin Pagi cover
Ily3000 [COMPLETEDπŸ¦‹] cover
Ketulusan. cover
Bad Girl cover
Untuk Dua Merpati Hebatku cover
Only You cover
180Β° [END] cover
Cool Boy & Gadis Halu  cover
kiara cover
SATU HARI (TAHAP REVISI) cover

Rindu Senin Pagi

25 parts Complete

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.