Dari Kiran Untuk Revan (END)

Dari Kiran Untuk Revan (END)

  • WpView
    Reads 4,486
  • WpVote
    Votes 859
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadComplete Thu, Aug 6, 2020
Rachella Kirania. ML., seorang gadis yang hidupnya selalu dipenuhi kesendirian, selalu merasa tidak dibutuhkan oleh kedua orang tuanya, sampai membuatnya frustrasi hidup di dunia. Kiran bukan tidak ingin bergaul, ia hanya tidak ingin jika dimanfaatkan saja. Ia tahu jika orang di sekitarnya hanya ingin memanfaatkan kekayaan yang ia dapat dari kedua orang tuanya. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seorang lelaki yang membuat hidupnya lebih berarti, dan mampu membawanya keluar dari dunia kesendirian. Namun suatu hari, Kiran harus berada dalam situasi sulit, yang membuatnya berada dalam sebuah pilihan. Akankah Kiran memilih tetap bertahan dan berjuang? Ataukah, ia memilih menyerah tanpa sebuah perjuangan? "Hidup sendiri bukanlah sebuah keinginan, itu merupakan situasi yang kamu masuki karena sebuah alasan. Memilih sendiri di saat orang lain hanya ingin memanfaatkanmu, itu adalah pilihan terakhir di saat kamu berada di titik paling rendah untuk bertahan." ~ R. Kirania. ML. ~
All Rights Reserved
#2
senjabiru
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  •  HAZELA
  • BETWEEN
  • Is It Home ?
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Perihal Sandwich(End)
  • Heartbeats: Di Antara Dua Dunia
  • mistake or destiny?
  • KARINALTHA
  • BUNGKAM
HAZELA

Hazela oleh sweedzz_ Hazela Abraham lahir sebagai seorang kembar, tapi hidupnya tak pernah seimbang seperti seharusnya. Di antara dua wajah yang serupa, hanya satu yang selalu mendapat cahaya. Dan itu bukan dirinya. Sejak kecil, Hazela terbiasa menjadi bayang-bayang Bianca, saudara kembarnya yang sempurna, cerah, dan selalu dicintai semua orang. Termasuk oleh Samudra, lelaki yang Hazela panggil kekasih, namun tak pernah benar-benar membuatnya merasa menjadi satu-satunya. Setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan untuk didengar, diperhatikan, bahkan sekadar diakui. Samudra selalu ada... tapi tak pernah untuk Hazela. Hatinya, langkahnya, dan keputusannya, semuanya selalu condong pada Bianca. "Kamu bisa ke kantin sendirian, kan?" Kalimat yang seharusnya biasa, tapi terdengar seperti tamparan ketika disampaikan oleh orang yang kau sebut rumah. Hazela tidak butuh dunia. Ia hanya ingin satu hal: dianggap penting, walau hanya sekali. Ia bukan meminta dunia. Ia hanya memohon tempat kecil di hati seseorang yang katanya mencintainya. "Jadiin aku prioritas kamu, Sa... sekali saja, sebelum aku tidur untuk selamanya." "Kamu prioritas aku, Zel... tapi sekarang, menjaga Bianca lebih penting daripada kamu." Ketika cinta menjadi luka, dan kehadiran menjadi beban, apa yang tersisa dari sebuah hubungan? Akankah kamu tetap bertahan mencintai seseorang yang tak pernah memilihmu? Hazel hanya punya satu permintaan sederhana sebelum segalanya terlambat: "Berikan aku kebahagiaan, sebelum aku pergi. Itu saja."

More details
WpActionLinkContent Guidelines