Rindu

Rindu

  • WpView
    Reads 426
  • WpVote
    Votes 84
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 6, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Rindu Chellya Lionna,gadis berusia 18 tahun, kelas 12 IPA 3 yang pendiam, jarang berbicara, dan tak ada teman. Hari harinya di habiskan dengan membaca novel. Ia bukannya tak mau ada teman.Tapi dia tak mau seorang pun tau apa yang terjadi di kehidupan nya. Ia tak mau merasa dikasihani oleh semua orang. Juga ada Zhean Arvino Andreas, lelaki tampan, jenius, cool,dan juga The Most Wanted di sekolah. Matanya yang tajam setajam elang itu mampu membius orang dalam sekejap. Tak hanya itu, perkataannya juga sangat pedas dan menusuk hati. Zhean terpaksa harus menolong Rindu karena tak sengaja masuk ke dalam lingkaran kehidupan kelam seorang Rindu. Masuk ke dalam lingkaran kehidupan kelam Rindu, bukan semudah membalikkan telapak tangan. Zhean terpaksa harus melakukan semacam perlindungan pada Rindu dari kejaran orang orang jahat. © Sabilla Fasya
All Rights Reserved
#203
menegangkan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • July,2019
  • -Lili- [Re-Upload]√
  • Kayla
  • ZENARZEL [SELESAI✔]
  •    My Love Is a Indigo
  • Atarangi. {Selesai}
  • TENTANG KAU DAN HUJAN //✔

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines