The Unreachable

The Unreachable

  • WpView
    Reads 12,454
  • WpVote
    Votes 1,087
  • WpPart
    Parts 46
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 9, 2026
Semua orang mengenal Alyra Azaline sebagai ketua OSIS yang sempurna - dingin, tegas, dan tak tersentuh. Tapi di balik tatapan tajam itu, ada luka yang tak pernah sembuh. Sementara Haizan Ezra tak berniat jatuh cinta padanya, sampai dia menyadari... semakin ia mencoba menjauh, semakin dalam ia terperangkap di dalam dunia Alyra. "The Unreachable" - karena tak semua jarak bisa dijaga, dan tak semua hati bisa tetap tertutup. {{HARQEEL}}
All Rights Reserved
#28
persahabatan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines