In a dream

In a dream

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 13, 2019
Terlalu banyak mimpiku, hingga aku tak tahu harus memulainya dari mana dan harus berbuat apa. Trauma di masa laluku menjadi penghalang di masa kini. Dan terlalu banya luka yang kutampung hingga aku buta akan arah. Aku gelap, aku sendirian, aku hampa, dan aku terkucilkan. Tak ada seorang pun yang berani mendekatiku, mereka semua menganggapku kumam. Di mata mereka aku terlalu hina, terlalu rendah untuk sekedar berteman. Aku... ingin menyerah, rasanya aku tak sanggup lagi. Aku masih terlalu lemah untuk menghadapi kerasnya hidup. Semuanya terasa kacau. Hidupku, keluargaku bahkan kisah Cinta aku pun tak ada yang baiknya. Semuanya cacat. Sehingga pada hari itu datang. Tangan dia mengulur di depanku. Membantuku untuk bangkit dari jatuh. Hingga aku sadar, dia adalah segalanya. Dia bukan hanya penolong, tapi juga penompang bagi hidupku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Jatuh Cinta Diam-Diam
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • Cempaka Terakhir ✔
  • Di Balik senyumanku
  • Mahligai Sunyi
  • A Dying Butterfly [SEGERA TERBIT]
  • Dear Kamu : My One and Only Crush On My Life

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines