NEGOSIATOR

NEGOSIATOR

  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 30, 2026
Di masa Orde Baru, sebuah sekolah berubah menjadi simbol tirani. Kebijakan yang kejam, rumor-rumor kelam, dan berbagai tindakan represif menghantui setiap sudut ruang kelas. Hingga suatu malam, tragedi berdarah terjadi-puluhan nyawa melayang, dan kebenarannya dikubur rapat oleh mereka yang berkuasa. Bertahun-tahun kemudian, seorang kepala sekolah baru datang membawa perubahan besar. Sistem pembelajaran dua shift diterapkan, biaya sekolah dihapuskan, dan para siswa diberi kebebasan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun, kebebasan tanpa batas ternyata memiliki harga. Perdagangan ilegal, konflik antarsiswa, dan berbagai masalah baru mulai bermunculan, sementara bayang-bayang tragedi masa lalu perlahan kembali menghantui sekolah itu. Mampukah sekolah ini bangkit dari luka sejarahnya dan menjadi tempat yang lebih baik? Ataukah ia akan kembali terjerumus ke dalam kegelapan yang pernah menghancurkannya?
All Rights Reserved
#150
detektif
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [TAMAT] Help, I'm a Zombie!
  • Ervan Carolline
  • ISTRI SELINGAN
  • NEALINE : Blood and Ice Cream
  • The Last Antagonis
  • Heyu : Second Gear
  • LORENZO
  • ANOTHER TRACY
  • SALAH OBAT
  • Side Character Syndrome

Pearl POV - Menjadi zombi bukan berarti aku kehilangan standar. Makan manusia sembarangan? Ew, jorok banget. Di tengah kiamat ini, aku tetap hidup dengan aturan, gaya, dan asosiasi zombiku sendiri. Hidupku sudah tenang, sampai pria menyebalkan dari militer itu menghalangi jalanku. Bhagna POV -​ Dia mutan anomali. Terlalu sadar dan kelewat terorganisir. Instingku menyuruhku untuk membunuhnya detik itu juga. Tapi senjataku tak pernah menyentuhnya. Dalihku, lebih aman menjaga musuh tetap berada dalam jangkauan. Padahal... mungkin saja aku hanya tidak ingin melepaskannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines