Represi

Represi

  • WpView
    LECTURAS 211
  • WpVote
    Votos 7
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, ene 11, 2020
Hari itu, suara terakhir yang kudengar adalah gemericik hujan dari balik jendela. Sudut mataku menangkap sesosok gadis kecil yang tergeletak lemah di ujung tangga, dengan dahi dan tangan yang tampak membiru. Setelah itu, tak ada lagi suara yang kudengar. Tak ada lagi cahaya yang kulihat. Hanya gelap dan sunyi yang menyelimutiku. Namun tiba-tiba, terdengar bisikan dan teriakan yang memenuhi telingaku membuat kepalaku terasa sakit. Suara itu benar-benar membuatku ketakutan. "Rinzani, kau membunuh gadis kecil itu. Kau pembunuh!" Teriak suara itu. _____ "Represi" [Started at 16 October 2019] Copyright © 2019 by Rifa Hendriani
Todos los derechos reservados
#199
mentalillness
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Rainangkasa #2 [END]
  • Rintik Hujan
  • about us and him ✔️
  • Umbrella Life [END]
  • SOLITUDES
  • Where am I?
  • Hujan dan Pembencinya
  • ABCD [TELAH DI TERBITKAN]
  • CATUR [END]
  • ECCEDENTESIAST (COMPLETED)

Hujan memang diciptakan untuk dijatuhkan. Semau dan semampu apapun hujan bertahan, tetap saja jatuh ialah keharusan. Semesta tak kenal kasih. Semesta tak pernah memilih. Jika sebuah hati berpaling, itu bukan salah semesta. Jika pada akhirnya harus mengenal perpisahan, itu juga bukan salah semesta. Salah seseorang yang tak bisa menjaga, salah seseorang yang hanya memberi kecewa. Hujan tak pernah menuntut perlakuan istimewa, namun bukan berarti dirinya diabaikan. ***** "Sa, aku cuma bantu kamu buat bebas. Biar kamu gak lagi sembunyi-sembunyi jalan sama cewek mana pun. Ini satu-satunya cara yang terbaik buat aku dan juga kamu." "Ra... " suara Angkasa berubah parau. Gerimis yang jatuh seakan menusuk seluruh tubuh Angkasa membuatnya merasa kesakitan, terutama hatinya. Namun di sini bukan hanya Angkasa yang merasa sakit, tapi Raina juga. Perempuan itu jauh lebih sakit. "Gue janji, Ra. Gue janji bakal berubah. Kasih gue satu kesempatan lagi." pintanya. Raina menggeleng seraya menarik lengannya. Kemudian, ia beranjak bangun. Disusul oleh Angkasa. Kini keduanya saling berhadapan dengan keadaan basah kuyup. "Aku harap suatu saat kamu temuin perempuan yang bisa bikin kamu bahagia, Sa." ***** Hubungan mereka berada di ambang perpisahan ketika perlahan-perlahan seseorang mengusik hati masing-masing. Ketika kisahnya tak lagi tentang dua orang yang jatuh cinta, tapi tentang dua orang yang sama-sama terluka, sama-sama mencoba bertahan, dan sama-sama melepaskan. Hujan sudah cukup sabar selama ini. Lantas, apakah masih ada kesempatan untuk merekatkan kembali yang retak? Mengembalikan kepercayaan yang dipatahkan?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido