ASKA
  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 22, 2021
Kisah ini berawal dari seorang guru yang mendapatkan keuntungan lebih dari wali muridnya. Anak dari sang penyogok merasa tidak dihargai. Anak itu bernama Aska. Merasa tidak tidak dipedulikan dan tidak dihargai oleh kedua orangtuanya, Aska yang mengetahui kedok sang guru melampiaskan kemarahannya pada anak dari sang Guru yaitu Jian. Jian adalah cinta pertama Aska. Akankah Aska mampu mengendalikan pikirannya saat bertemu Jian? Bisakah Aska melupakan kejadian yang sudah merusak harga dirinya? Penasaran? Mari membaca cerita ini. NB: percakapan dalam cerita ini menggunakan bahasa jawa khas surabaya yang sudah disertakan artinya dalam bahasa indonesia.
All Rights Reserved
#247
melow
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • CHAPTER HIDUP 2: IDEALISM WITH LOVE (Faye Yoko)
  • bukan hanya cinta
  • AGGA
  • Get Married [Tamat]
  • Namanya Intan (TAMAT)
  • Teacher Pet's : Brothership

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines