Kala itu ...
Aku dan kamu sepakat menjadi kita,
kita ditakdirkan bersama,
Suka duka rasakan tanpa meminta,
Tawa tangis nikmati bersama.
Dari kerasnya Ego yang sanggup berdamai,
Kerasnya batu yang mampu luluh,
Nikmatnya Kehangatan kala itu,
pada akhirnya egomu sekeras batu.
Serumit ini kah..
Jika hanya berhujung perpisahan,
Kau pergi tanpa pamit,
Kau menghilang tanpa ajari caranya melupakan.
Kau sepakat lepaskan tanpa rapat,
Hanya menyisakan luka yang tak kau tutup rapat rapat,
Rentang kisah kita bermula berbeda yang berhujung serupa.
Dan ahirnya kau berlari kita jadi selisih.
Mungkin ini peluang terbaik yang tuhan berikan,
aku mencoba mengepahkan sayap,
Saatnya terbang dari sangkarmu, Mulailah berperan jadi an-nass yang sebenarnya.
mulailah berperang dengan belantara dunia.
Ganti lembaran baru,
Kau tuliskan ihtiarmu,
Usaha yang tak pernah kau dustakan,
Cobalah kau bergerak step by step
Berusaha merangkak, berdiri tegak,Mulai berjalan pelan, cepat dan pada akhirnya kita berlari sekecang mungkin.
Gapai mimpi kita masing masing kawan.
Jangan putus asa, masih ada Tuhan yg selalu membantu hambanya yang bersungguh sungguh.
Semoga kita selalu bisa mengambil hikmah dari sebuah kegagalan.
Mungkin inilah jalan terbaik yang Tuhan rencanakan.
Don't be sad, Allah with us
Kamu tau bagaimana sakit kehilangan orang tua diusia yang cukup belia?, apa kamu pernah merasakan sesaknya tidak punya siapa siapa didunia?,
Pernahkah kamu merasa ketakutan seperti yang kualami saat kakak angkatku berusaha merencanakan kematianku?.
Semua itu kurasakan, kualami dengan rentang waktu yang berdekatan saat usiaku bisa dibilang masih kanak kanak.
Untunglah selama kesakitan itu berlangsung ada sesosok malaikat tak bersayap yang mampu memberiku pelukan hangat setiap saat.
Untukmu..
Terimakasih....
Selama ini telah menjadi tempat ternyamanku untuk singgah.
Menjadi tempat terbaikku untuk berkeluh kesah.
Menjadi tempat pulang untuk aku yang kehilangan arah.
Meski kutau jika hadirmu hanyalah sebagai tempat singgah untuk diriku yang sudah lama kehilangan rumah.
Terimakasih....
Sudah menemaniku merajut mimpi yang tidak bisa kulakukan sendiri, menjadi bahu terkuat yang membantuku menghadapi rintangan bertubi tubi.
Memberiku peluk hangat untuk jiwaku yang dilanda sepi dan selalu membuatku yakin jika semua yang terjadi akan bisa kulewati.
Terimakasih....
Telah membantuku menyambung sayap sayapku yang patah, mengobati luka dahulu kuanggap mustahil untuk disembuhkan, menyelamatkanku dari kehidupan yang senantiasa terancam.
Meski hidupmu bukanlah tentang aku, tapi hidupku bersumber dari cintamu.
**<>**