BIMA-RESHA: 1998

BIMA-RESHA: 1998

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 18, 2019
Kami mahasiswa punya mata untuk melihat! Kami mahasiswa punya otak untuk berpikir! Kami mahasiswa punya hati untuk menilai! Kami mahasiswa punya semangat untuk bergerak! Mahasiswa untuk rakyat! Mahasiswa untuk Indonesia! - Mahasiswa, 1998 Bima, ketua Fakultas Sastra, terjun dalam aksi demonstrasi mahasiswa 1998. Bersama jutaan mahasiswa lain dia menuntut hal-hal krusial pada pemerintah saat itu. Kerusuhan terjadi di tengah-tengah demo. Pikirannya terpecah, selamatkan massa, dirinya, atau Resha yang adalah primadona Fakultas Hukum sekaligus kekasihnya?
All Rights Reserved
#1
yaindoaksimahasiswa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dia dan Keindahannya
  • Namanya Intan (TAMAT)
  • First Love
  • BROKEN LOVE (End)
  • Cowok Posesifku
  • Bagaimana, Pak? (Complete)
  • KELAS '98
  • Garis Kesalahan [END]
  • Silence Behind The Spotlight (END)
  • Trauma Is Real

Bima adalah seorang pemuda yang terkesan dingin dan terasing. Ia lebih suka menghabiskan waktunya sendiri di ruang baca kampus, tenggelam dalam dunia buku filsafat yang membosankan bagi sebagian besar orang. Tak banyak yang tahu tentangnya, kecuali bahwa ia adalah sosok yang tampak tak peduli pada apa pun. Hidupnya berjalan dalam rutinitas yang teratur, dan ia merasa cukup dengan dunia yang ia bangun sendiri, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sosial kampus. Isabel, di sisi lain, adalah gadis yang tak kalah mencolok. Cerdas dan berwawasan luas, ia sering menjadi pusat perhatian di kelas. Namun, ada satu hal yang disembunyikan Isabel dari teman-temannya-penyakit jantung yang sudah lama ia derita. Meskipun tampak sehat dan aktif, tubuhnya sering kali terasa lelah, dan sakit yang datang tiba-tiba membuatnya harus menahan diri untuk tidak terlalu banyak beraktivitas. Namun, tidak seorang pun tahu tentang ini. Isabel memilih untuk tidak mengungkapkan penyakitnya pada siapa pun. Ia tak ingin dilihat sebagai orang yang

More details
WpActionLinkContent Guidelines