Darah Pendekar

Darah Pendekar

  • WpView
    Reads 351
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 22, 2019
Asmaran S Kho Ping Hoo Kekuasaan, sejak jaman dahulu sampai sekarang, selalu mendatangkan kekerasan dan penindasan. Hal ini tidaklah mengherankan karena di mana terdapat para pendukungnya, terdapat pula pihak-pihak yang menentang nya, terdapat pula pihak-pihak yang merasa iri hati dan ingin merebut kekuasaan itu, dan pihak yang berkuasa tentu saja berusaha mati-matian untuk mempertahankan kekuasaannya. Maka, sudah tentu terjadi kekerasan dan penindasan demi mempertahankan kekuasaan dan dalam perebutan kekuasaan itu, mereka yang menentang tentu saja diberi cap pemberontak. lalim kepada penguasa yang ditentangnya. Hal ini terjadi sejak dahulu sampai kini, sejarah berulang sepanjang masa dan agaknya takkan pernah dapat dirobah selama kita manusia selalu mengejar kesenangan masing-masing.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pendekar Wanita Baju Putih (Pek I Lihiap) - ASKPH
  • Again To Love In Another Life [END]
  • Thorns of the Throne
  • [COMPLETED] Only Married Jiāngjūn
  • Cinta Sang Prajurit (END)
  • Kasih di Antara Remaja
  • KinnVegas [Love Cousin]
  • Eleftheria
  • The Cursed Prince

"Ha, Pek I Lihiap datang lagi. Apakah kau rindu padaku?" pahlawan itu gunakan kesempatan untuk menghina Giok Cu karena hatinya masih sakit karena sabetan dulu. "Saudara-saudara! Kalau memang kalian tidak mencari permusuhan, pergilah jangan ganggu kami!" Thian In berkata lagi. Kim-to Poey-kong tertawa. "Sobat, kau agaknya seorang gagah juga. Maka kau pergilah dengan Pek I Lihiap, kami takkan mengganggu kalian. Tapi Thio-siucai ini harus kalian tinggalkan kepada kami." "Tak mungkin! Kami berlima adalah teman seperjalanan, tak mungkin dia kami tinggalkan. Kami pergi bersama dan tinggal bersama pula." "Kalau begitu, terpaksa kami harus gunakan kekerasan!" "Silahkan! Kami tidak takut!" berkata demikian ini Thian In mencabut pedangnya dan Giok Cu juga turut contoh pemuda itu. "Ha, ha! Agaknya kalian dua orang muda sudah bosan hidup." Sebagai penutup kata-katanya, Kim-to Poey Kong gerakkan golok emasnya ke arah Thian In yang menangkis dengan cepat. Keduanya merasa betapa besar tenaga masing-masing hingga Kim-to Poey Kong terkejut sekali, karena si Golok emas ini tadinya hendak gunakan tenaganya dan sekali sampok hendak bikin pedang Thian In terpental jauh! Siapa duga, tidak saja pedang, pemuda itu tidak terlempar, bahkan ia merasa telapak tangannya yang memegang golok tergetar panas! Ia maklum bahwa pemuda di depannya ini tak boleh dibuat gegabah, maka ia berseru: "Kawan-kawan, serbu!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines