Story cover for Remember You Are by Dzulpebrn
Remember You Are
  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Oct 20, 2019
My life feels empty without you. Is this what is called miss? Maybe if there is a device that can measure it, I think it will break. Because your presence is very much awaited.


















"Aku harus pergi, mungkin dengan waktu yang sangat lama. Aku yakin kamu bisa hidup tanpa diriku. Kamu sudah dewasa, dan aku yakin kamu pasti bisa bahagia tanpaku." Ucap Lisa seraya pergi menjauhi Arka.
"Lisa..." Ratap Arka memandangi punggung gadis julita itu.
All Rights Reserved
Sign up to add Remember You Are to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Truth After Love (Tamat, segera terbit) by tiaxyl
36 parts Ongoing Mature
perang "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.
𝐈𝐧𝐬𝐢𝐝𝐞 𝐲𝐨𝐮𝐫 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭 by SquallSailor
9 parts Ongoing
𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬.. 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬 𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬? 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐡𝐚𝐫𝐢.. 𝐥𝐮𝐤𝐚 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡.. 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐡𝐚𝐫𝐢.. 𝐚𝐤𝐮 𝐝𝐢 𝐩𝐮𝐤𝐮𝐥𝐢... 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚? 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚? 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫𝐤𝐮? 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮? 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚? 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐚𝐩𝐚-𝐚𝐩𝐚... 𝐚𝐤𝐮 𝐲𝐚𝐤𝐢𝐧.. 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐥𝐞𝐦𝐚𝐡.. 𝐛𝐨𝐝𝐨𝐡... 𝐝𝐚𝐧 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐬𝐚𝐫.. 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐡𝐚𝐥 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐨𝐛𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐢𝐤.. 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚?.. "𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐢𝐤𝐬𝐚𝐤𝐮" "𝐒𝐞𝐥𝐚𝐮𝐭 𝐚𝐢𝐫 𝐦𝐚𝐭𝐚𝐤𝐮 𝐩𝐮𝐧 𝐭𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐫𝐚𝐧𝐠𝐢𝐧𝐲𝐚" "𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢" "𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐡𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐧𝐝𝐚𝐫" "𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐤𝐞 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐢𝐭𝐮"
You may also like
Slide 1 of 10
Hopeless cover
ALWAYS cover
someone like you cover
Truth After Love (Tamat, segera terbit) cover
to My Mr Everything cover
Blue and Grey cover
ASMARALOKA cover
𝐈𝐧𝐬𝐢𝐝𝐞 𝐲𝐨𝐮𝐫 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭 cover
Breathe cover
The Blind Star cover

Hopeless

31 parts Complete

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.