Kisah Biru

Kisah Biru

  • WpView
    Bacaan 212
  • WpVote
    Undian 25
  • WpPart
    Bahagian 10
WpMetadataReadSedang Ditulis
WpMetadataNoticeTerakhir diterbitkan Isn, Dis 28, 2020
WpInfo
Fiksyen
Romantika
Aku, Alfath Adam, biasa dipanggil Fatih, seorang lelaki yang beranjak dewasa, yang dibuat bingung dengan sebuah foto yang terjatuh dari buku harian bersampul biru milik mamaku. Seperti ada ikatan yang menyambungkan kisah lama dan saat kini, antara mama, aku dan biru. Mampukah aku mengambil hikmah dari semua kisah mamaku ?. Atau aku akan melepaskan gadis yang selama ini kudamba menjadi istriku.
Hak Cipta Terpelihara
Jom sertai komuniti bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang diperibadikan, simpan cerita kegemaran anda ke dalam Pustaka anda, serta beri komen dan undi untuk mengembangkan komuniti anda.
Illustration

Anda juga mungkin menyukai

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Cinta Seorang Santri (TERBIT)
  • Takdir Mempersatukan Kita (TAMAT)
  • Tentang Ashel
  • KULANTUNKAN SURAH AR-RAHMAN UNTUKMU [END]
  • A B I A N : Insaf Boy  [END]
  • Kamu Separuh Agamaku [TERBIT]
  • ELFATHAN
  • Harta Tahta Janda Muda Sholehah
  • The Girl Who Made Me Sujud

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

Maklumat lanjut
WpActionLinkGaris Panduan Isi