Sebercak Rindu Tasya

Sebercak Rindu Tasya

  • WpView
    Lectures 135
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Chapitres 3
WpMetadataReadTerminé mer., juil. 29, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Kadang kita butuh bahu seseorang untuk bersandar kalah kita sedih, kadang kita butuh pelukan saat kita rapuh, kadang kita butuh penopang saat kita jatuh, kadang kita butuh tangan yang jemarinya senantiasa menggengam dikala kita jatuh dan tak mampu berdiri, kadang kita butuh mata seseorang saat mata kita sendiri tak mampu melihat jalan dan disaat kita tersesat kita butuh seseorang untuk menunjukkan arah yang tepat Untuk mu wanita ku, cintaku, duniaku, dan bidadari ku. Jiwa ku yang tak pernah damai saat mengenang kenangan kita. Salahku menempatkan mu dalam pilihan hingga aku harus melihatmu pergi dengan luka yang menyiksamu hingga maut menjemput. Salahku yang tak pernah bisa memahami arti ketulusan mu. Salahku yang membiarkan air matamu berlinang di pelupuk mata mu. Hingga aku sadari arti sebuah penyesalan yang tak berujung. Luka mengajarkan ku pentingnya dirimu Luka mengajarkanku arti waktu sesungguhnya Luka mengajarkanku suka dan duka adalah awal kehidupan Luka mengajarkanku bahwa hidup hanya untuk satu kematian Hingga luka itu mengikis ku menjadikan jiwaku kekal walau ragaku tak lagi berwujud.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Hanya Rindu Dan Trauma
  • Rendra & Lila [END]
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • save me
  • SERUNI DI PADANG HATI (LENGKAP-TAMAT)
  • MY BOYFRIEND IS MY HUSBAND
  • DikaRanggi
  • Dear Fenly || Un1ty
  • Love In Paris (COMPLETED)

Aku hanya rindu bukan cinta hanya karena trauma ini aku tak lagi mempercayai lagi apa itu arti cinta jangan memulai dengan membawa luka lama, kembali lah dengan versi terbaik dan luka itu benar-benar kau sembuhkan dengan waktu ./ deary .. Dalam senyap malam yang kelabu, Rindu menyelinap seperti bayang, Mengisi ruang hati yang kosong, Mengusik luka yang belum sembuh. Rindu itu, seperti angin sepoi, Menyentuh lembut namun menusuk, Mengingatkan pada senyum yang hilang, Pada tawa yang kini tinggal kenangan. Trauma itu, seperti duri, Mengakar di dalam jiwa yang rapuh, Menggores setiap ingatan, Menghantui setiap detik yang berlalu. Malam-malam panjang tanpa bintang, Kusandarkan hati pada sepi, Menganyam harap di antara kelam, Berharap rindu dan trauma berakhir. Namun, rindu tak pernah lelah, Terus mengalun dalam hening, Sementara trauma tetap berbisik, Mengiringi setiap jejak langkahku. Dalam pertemuan bayang dan luka, Ku mencari cahaya di ujung jalan, Meski perih, meski berbalut duka, Aku percaya ada akhir dari rindu dan trauma.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu