U L U R
  • WpView
    Reads 104
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 29, 2020
Squel TAK SEKEDAR RASA "mengapa kamu kemari?" ucapnya dengan nada datar namun menarik untuk di selami. lihat saja wajah nya yang tak menampilkan ekspresi,dengan gagahnya berdiri bersama seragam yang melekat dalam tubuh nya membuat langit menggurat senyum di bibir. "saya kemari mengikuti naluri, memang kenapa?" tanya langit menatapnya. "tidak. aneh saja anak kota sepertimu berada di tempat ini." dia kini membalas tatapan langit walau dengan irit. "saya baru tau, abdi negara seperti mu memandang manusia dengan latar tempat asalnya." langit melihat raut wajahnya yang menampilkan amarah. "saya juga baru tau wanita seperti kamu adalah seorang penulis." datar adam. "saya juga baru tau laki laki seperti kamu bisa jadi seorang tentara. Waw sangat tidak di sangka."sindir langit. "saya tidak cukup waktu untuk meladeni kamu." adam hendak pergi lamun langkahnya tertahan karena langit yang merentankan tangannya di depan adam. "kamu pergi karena aku di sini dam?"ucap langit lirih. "dam aku juga gak tau kamu disini, bahkan aku juga gak tau kamu seorang tentara." adam tak bergeming dengan ucapan yang langit lontarkan. "kamu kemana selama 7 tahun ini?" tanya langit sendu. "jawab dam!!" emosi langit sudah tak terbendung.
All Rights Reserved
#747
adam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misi Kalisa (End)
  • BAD GIRL VS KETUA OSIS✓
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • TOUCHED (End)
  • Dear Husband [TAMAT]
  • Cahaya Iman Gus Berandal (on going)
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • Next Day
  • Fake's Lady
  • Betadine

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines