Koma
  • WpView
    Reads 133
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 14, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Renungan suci dengan kunang-kunang sebagai tamu, dan malam sebagai panggungnya. Menatap saling iba kepada bulan, "Apa kau sedang mengejekku?" Tanyaku dengan kerutan di dahi yang kian menjadi seiring terangnya rembulan bersinar di larut malam. Seolah mengejek. "Lalu apa maumu?" Tanyanya di antara genangan air akibat hujan tak deras. Kuusap air mataku, tak ingin berbicara dengannya, walaupun malam ini adalah panggungnya. ©KKCathleen
All Rights Reserved
#449
rich
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • The Dryades || Jung Jaehyun [Completed]
  • As The Moon So Beautiful
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • BULAN (END)
  • Gengsi (Taehyung-Seulgi)
  • Serenade ( vkook / Brothership )
  • SELENOPHILE
  • BUALAN
  • Mentari Tanpa Sinar

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines