"KAMU!"
Aku terkejut saat melihat seorang lelaki rupawan duduk di sampingku. Senyuman lebar, dengan tangannya yang melambai. Tak lupa sapaan hangat yang menurutku menyebalkan di telingaku. Dan juga aku harus terjebak bersamanya karena ajakan berkeliling ke Jakarta.
Sebuah kisah aku yang tak sengaja membuat hidup seorang patung karena sentuhan tanganku. Pesan yang ingin disampaikan oleh lelaki tersebut kepada semua anak-anak.
Tingkahnya, sifatnya, dan juga keberadaannya entah mengapa membuatku terasa nyaman.
***
"Hai, aku Dewa!"
"Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu seharusnya di Muse--"
Dewa tertawa dan aku kesal.
"Kamu masih beranjak remaja. Lain kali pikirkan apa yang akan terjadi sebelum bertindak, menjadi bijaksana salah satu sikap dewasa."
"Aku tidak tau apa-apa. Aku tidak butuh semua ini, yang aku butuhkan adalah perhatian orang tuaku. Tapi aku butuh semua ini agar mereka setidaknya seatap denganku." -Muthia-
"Terkadang yang kamu butuhkan hanyalah berbicara kepada mereka. Jangan terus-terusan berharap mereka akan mengerti tanpa kamu beritahu."
Muthia adalah anak tunggal dari keluarga Simamora. Hidupnya sudah terbilang cukup untuk anak seusianya. Ayahnya adalah seorang pengusaha konstruksi ternama di kotanya, dan ibunya adalah seorang guru.
kedua cukup sibuk sampai membuat Muthia merasakan kurangnya perhatian kedua orang tuanya. Namun sebagai ganti dari itu, dia memiliki kekuatan, sebuah kekuatan yang tidak dimiliki orang biasa.
Mampukah dia menggunakan kekuatannya untuk menarik perhatian orang tuanya? atau malah kekuatan itu yang menciptakan masalah bagi dirinya sendiri?