Open-Minded, Why Not?

Open-Minded, Why Not?

  • WpView
    Reads 73
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sat, Nov 2, 2019
Sebuah esai mengenai open-minded, seni berpikir toleransi masa kini. "Jadi orang jangan terlalu open-minded karena itu pemikiran budaya barat supaya mereka dapat akseptasi dari kita." Di saat itu pula, saya menepuk kening dan mendesah pelan. Huft. Open-minded, sekiranya frasa itu menjadi populer di beberapa tahun belakangan ini. Sebuah pola pikir yang dicap menakjubkan jika tertanam pada paradigma seseorang. Menunjukkan kalau orang itu memiliki kualitas sumber daya yang baik. Namun, enggak sedikit orang lho, yang enggak setuju dengan pemikiran open-minded ini. Lho, kenapa demikian? Apa yang salah dengannya? Dan kalau begitu, apa itu open-minded? *** Kaver dibuat oleh Canva.
All Rights Reserved
#8
gerakan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Shaila(?)
  • grateful to have you
  • Batas-Batas Eksistensialisme
  • Lengah Dikit Oversharing sama Kang Cilok (JOONGDUNK)
  •  L.T.D(LATEST THE DISSILUSION)
  • i don't want to - PARK JIHOON [End]
  • krowjaki and y/n
  • Dreamer
Shaila(?)

{Judul sebelumnya my possesive brother's} [SLOW UPDATE] -Bahasa tidak baku "Apa aku salah memperjuangkan?" "Merendahkan orang lain hanya untuk membuat mu merasa tinggi? Hanya orang bodoh yang melakukan itu!" "Aku terlalu buruk untuk diri mu yang hampir sempurna" "Aku ingin selalu tidur karena mimpi ku lebih indah dari kenyataan" Hasil pemikiran sendiri! Plagiat harap mundur!!!

More details
WpActionLinkContent Guidelines