Cold Tone that Freeze Time

Cold Tone that Freeze Time

  • WpView
    Reads 379
  • WpVote
    Votes 108
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 5, 2019
Setiap kali Hakiem memainkan pianonya di ruang musik, ia tak pernah menghayati permainannya sendiri. Karena yang ia pikirkan hanyalah "Bermain sesuai partitur dan tanpa melakukan kesalahan". Ia bermain piano karena paksaan dari keluarganya yang menuntutnya untuk menjadi seorang pianist. Padahal mimpinya adalah bekerja di bidang biro hukum. Setiap sore, Karla selalu melewati ruang musik dan mendengarkan permainan piano yang dapat membuatnya diam membeku di tempatnya berdiri. Karla terpukau pada permainan tersebut, karena tak ada kesalahan sedikitpun yang dilakukan oleh Hakiem. Namun, pendengarannya tidak mungkin salah menilai, bahwa permainan tersebut tidak memiliki jiwa dan perasaan, apalagi hati. Jalan manakah yang Hakiem pilih dalam hidupnya? Mengikuti kehendak orang tua atau menggapai mimpinya sendiri? Dapatkah Karla mengubah keadaan? Keadaan macam apa yang Karla ingin ubah? Mampukah mereka menghadapi berbagai macam liku kehidupan? Siapkah mereka untuk menerima takdir?
All Rights Reserved
#14
pianist
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Echoes of past Longing
  • It's Always Been You✔️
  • KENANGAN INDAH BERSAMAMU
  • Nada Yang Tak Terdengar [✓]
  • SAYA [Seek Anything You Ask] #2
  • FEARLESS || JAYISA
  • SKY "First Time"
  • Payback's Sweet

Sejak bangku Sekolah Dasar, Kate dan Livia telah berbagi cerita, tawa, dan rahasia kecil yang hanya dimengerti oleh sahabat sejati. Kini, di usia dua puluh tahun, kedekatan mereka tak pernah luntur. Kate adalah sosok yang jatuh cinta pada kata-kata. Ia menulis puisi seolah-olah sedang mencurahkan isi hatinya, membaca buku seperti melarikan diri ke dunia lain. Musik adalah pelengkap dunianya-sesekali ia bermain piano, memetik gitar, bernyanyi lirih, atau memasak camilan kecil sebagai teman senyap dalam kesendiriannya. *** Pertemuan pertamanya dengan Harley terjadi begitu sederhana-di perpustakaan, ketika laki-laki itu secara tidak sengaja menyenggolnya. Dari insiden kecil itu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan. Enam tahun mereka bersama, menulis kisah yang indah sekaligus rumit. Hingga suatu hari, tanpa kata yang cukup, mereka memilih untuk berjalan di jalan yang berbeda. Bukan karena tak cinta, tapi karena cinta saja tak lagi cukup. Kini, setelah sekian waktu berlalu, Harley datang kembali-membawa tawaran yang mengusik hati Kate. Ia ingin Kate menjadi vokalis di band-nya. Pertanyaannya: akankah Kate mengiyakan, saat hati mereka pernah retak oleh kisah yang belum tuntas? -Happy Reading, enjoy every page!

More details
WpActionLinkContent Guidelines