Manusia Semut

Manusia Semut

  • WpView
    Reads 482
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 31, 2024
WpInfo
Fanfic
RWBY
PRAKATA Dari semua keseharian hidup gue, gue paling senang yang namanya sendiri. Menurut gue, sendiri itu adalah hal yang ngga akan jauh dari seseorang. Seseorang butuh menyendiri pada waktunya nanti. Begitu juga dengan gue, menghadapi hari demi hari gue dengan sendiri adalah hal yang biasa buat gue. Sebenernya gue ngga sendiri, ada orang tua dan temen gue yang ngga selamanya ada waktu buat gue. Semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing, sementara gue sibuk dengan kehidupan gue setiap hari di kamar, mengurung diri dan ngga jelas mau ngapain. Ada masanya gue dan orang tua gue punya waktu weekend bersama. Perlahan demi waktu, masa itu hilang dengan sendirinya. Kangen adalah hal yang paling mutlak buat gue saat ini. Coba seandainya waktu bisa diulang, gue pengen ngulangin waktu yang sama lagi. Cerita ini gue bikin hanya ingin berbagi cerita gue dan ketika gue ngga tau lagi harus ngapain dan sudah seharusnya gue nulis ini karena gue mencoba mengeluarkan kegelisahan gue terhadap kesendirian gue ini. Moga-moga, kita bisa merasakan kegelisahan yang sama dan bisa iklhas dengan mentertawakannya. Selamat membaca! Rayhan Suryoputro
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Halaman Hidupku
  • M E M O R Y  (On Going)
  • ANDAI AKU PUNYA KESEMPATAN LAGI (TAMAT)
  • Di Balik Nama Zella
  • PENGALAMAN KU, KISAH DIA
  • Gadis Desa Jadi Milliarder (END)
  • Di Balik senyumanku
  • Setelah Hujan ( End ✔)
  • Antara aku dan dunia
  • Mahligai Sunyi

patah mana yang tak kupulihkan sendiri, sakit mana yang belum pernah ku rasakan. Saat dunia menuntutku tegar tanpa memperdulikan bagaimana aku bertahan. Setiap luka selalu ku peluk dalam diam, sembari belajar mencintai diriku yang perlahan hancur. Mereka selalu melihat senyumku, tapi tak pernah tau pertempuran yang ku rahasiakan di balik hati dan pikiranku. Aku berjalan dengan hati yang lelah, namun tetap berdiri meski runtuh dalam sunyi. Aku menangis tanpa suara, meratap dalam jiwa yang hampir mati rasa. Bahkan nafas pun terasa sesak, seolah dunia tak memberiku kesempatan untuk sekedar tenang. Sebab kalau bukan diriku, siapa lagi yang memeluk hatiku sendiri, saat semua memilih pergi ketika aku paling membutuhkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines