We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Rahma & Yana
  • WpView
    Reads 1,275
  • WpVote
    Votes 95
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Jun 9, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Layang-layangku hampir putus. Menarik atau menggulungnya sama-sama berisiko. Benangnya telah berada di ujung tanduk. Satu hentakan saja layang-layang itu akan terbang mengikuti angin, tanpa kendali. Ia akan terbang mengitari langit luas sesukanya. Sebebas-bebasnya. Lalu, terjun bebas ke bawah saat angin tidak lagi menjadi teman. Melepaskannya tanpa memandang ke wajahnya. Dan tidak mungkin juga aku bertahan di sini, menanti layang-layang turun sendiri. Aku menghela napas. Ini layang-layang terakhirku. Bila akhirnya layang-layang ini putus, tidak ada lagi layang-layang berikutnya. Tidak ada lagi kisah selepas Ashar, sepulang dari Madrasah, aku berlari ke rumah. Berganti pakaian lalu meluncur ke lapangan sekolah seluas dua kali lapangan voli seraya menenteng layang-layang. Tidak ada lagi kisah aku berlomba lari dengan Rehan dari Madrasah menuju rumah. Melalui jalanan lurus ke timur lalu tikungan tajam ke kiri. Bertelanjang kaki menantang tajamnya kerikil-kerikil jalanan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Love In Profession[End]
  • [LS1] RAINEESME (Completed)
  • MEISYA
  • Aksara Lingga
  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • selamat pagi cinta
  • 𝙵𝙰𝚉𝙴𝙴𝚁𝙰
  • Stay With Me  [On Going]
  • Menanti

-Cerita ringan dan enggak berbelit,semoga suka -Belum di Revisi Cut Syifa Azzahra adalah seorang mahasiswi kedokteran yang terpaksa harus berhenti mencapai impiannya dan menjadi guru di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota lalu bagaimana kah pertemuan nya dengan seorang Dokter Muhammad Alzam yang menjadi relawan saat desa yang ia tempati sedang mengalami bencana alam ___ "ya allah , saya tidak punya hak untuk memarahi dokter, saya hanya mengingatkan, saya juga pernah telat tapi tidak marah saat di tegur" zara berjongkok untuk mengikat tali sepatunya yang lepas, dengan mulut tidak hentinya mengoceh "Pokok nya kamu memarahi saya zara! hati saya benar benar sakit" seperti biasa dengan tampang sok sedih dan satu tangan mengelus dada "sekarang apa lagi yang mau kamu lakukan? oh, saya tau, sepertinya kamu mau saya mati dengan tidak memberi saya makan pagi dan siang" zara menghela nafas pelan, mengumpulkan ogsigen, mengumpulkan ogsigen sebanyak banyaknya, rasanya beban hidupnya akan bertambah sekarang. oh tidak melainkan sejak kemarin

More details
WpActionLinkContent Guidelines