Rahma & Yana
  • WpView
    Reads 1,269
  • WpVote
    Votes 95
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Jun 9, 2020
Layang-layangku hampir putus. Menarik atau menggulungnya sama-sama berisiko. Benangnya telah berada di ujung tanduk. Satu hentakan saja layang-layang itu akan terbang mengikuti angin, tanpa kendali. Ia akan terbang mengitari langit luas sesukanya. Sebebas-bebasnya. Lalu, terjun bebas ke bawah saat angin tidak lagi menjadi teman. Melepaskannya tanpa memandang ke wajahnya. Dan tidak mungkin juga aku bertahan di sini, menanti layang-layang turun sendiri. Aku menghela napas. Ini layang-layang terakhirku. Bila akhirnya layang-layang ini putus, tidak ada lagi layang-layang berikutnya. Tidak ada lagi kisah selepas Ashar, sepulang dari Madrasah, aku berlari ke rumah. Berganti pakaian lalu meluncur ke lapangan sekolah seluas dua kali lapangan voli seraya menenteng layang-layang. Tidak ada lagi kisah aku berlomba lari dengan Rehan dari Madrasah menuju rumah. Melalui jalanan lurus ke timur lalu tikungan tajam ke kiri. Bertelanjang kaki menantang tajamnya kerikil-kerikil jalanan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stay With Me  [On Going]
  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • Males, ribet.
  • 𝙵𝙰𝚉𝙴𝙴𝚁𝙰
  • Raghavan to Janaki
  • Senja Termendung
  • Sailing With You [END]
  • Love In Profession[End]

"Senior..!" Teriak seorang gadis remaja dengan begitu kencang. "Senior..!" Tambahnya lagi, tak kalah nyaring dari sebelumnya. Namun tetap saja, pemuda tampan yang sedari tadi berjalan menjauh dari gadis belia tersebut, berpura-pura tuli dan enggan berbalik. Tak mendapat respon dari seseorang yang saat ini tengah ia teriaki gelarnya, gadis cantik dengan wajah Asia tersebut menggeram kesal. "Arsya Raysent.!" Teriaknya penuh amarah Seketika, langkah kaki yang tadinya enggan berhenti. Akhirnya memilih untuk diam. Dengan segera, pemuda tampan tadi berbalik guna menatap seseorang yang saat ini tengah meneriaki nama nya dengan begitu tidak sopan. Nampak, ia menarik nafas kasar sembari memejamkan matanya singkat. Dan pada detik selanjutnya, mata hazel yang lebih dominan berwarna coklat terang tersebut, perlahan kembali memilih untuk terbuka. Dan kembali menatap gadis yang saat ini berada cukup jauh dari tempat dimana ia berdiri sekarang. Namun kali ini, mata hazel itu nampak menatap nyalang. "Jangan melewati batasan mu, kau sungguh tidak sopan.!" Geram pemuda tampan tadi "Jika dengen melewati batasan ku, kau bisa memperhatikan ku. Maka akan ku lewati semua batasan-batasan itu" Balas gadis remaja itu dengan berani, kali ini sebuah senyum nampak mulai jelas terukir pada wajah cantik tersebut. Sungguh, Arsya begitu kesal dibuatnya. Namun pemuda itu memilih mengakhiri semua ini, tak ingin memperpanjang kerunyaman yang ada. Dengan segera Arsya kembali berbalik dan melangkah pergi. Entah pada langkahnya yang keberapa, Kembali, gadis bernama Adinda tersebut berteriak lagi. "Aku bersumpah, akan membuat mu jatuh cinta pada ku.!" Teriaknya kencang. Mendengar hal itu, Arsya pun menggeram singkat di tengah lalu nya saat ini. "Bermimpi lah, karena kau sama sekali bukan tipe gadis idaman ku" Balas Arsya masih dalam lalu nya yang enggan berhenti. "Kita lihat saja nanti.! Kau, atau aku yang akan menang.!" Teriak Adinda lagi dengan nafasnya yang memburu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines