Rahma & Yana
  • WpView
    Reads 1,275
  • WpVote
    Votes 95
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Jun 9, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Layang-layangku hampir putus. Menarik atau menggulungnya sama-sama berisiko. Benangnya telah berada di ujung tanduk. Satu hentakan saja layang-layang itu akan terbang mengikuti angin, tanpa kendali. Ia akan terbang mengitari langit luas sesukanya. Sebebas-bebasnya. Lalu, terjun bebas ke bawah saat angin tidak lagi menjadi teman. Melepaskannya tanpa memandang ke wajahnya. Dan tidak mungkin juga aku bertahan di sini, menanti layang-layang turun sendiri. Aku menghela napas. Ini layang-layang terakhirku. Bila akhirnya layang-layang ini putus, tidak ada lagi layang-layang berikutnya. Tidak ada lagi kisah selepas Ashar, sepulang dari Madrasah, aku berlari ke rumah. Berganti pakaian lalu meluncur ke lapangan sekolah seluas dua kali lapangan voli seraya menenteng layang-layang. Tidak ada lagi kisah aku berlomba lari dengan Rehan dari Madrasah menuju rumah. Melalui jalanan lurus ke timur lalu tikungan tajam ke kiri. Bertelanjang kaki menantang tajamnya kerikil-kerikil jalanan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • Angel To Raya (END)
  • Males, ribet.
  • DANADYAKSA
  • Aksara Lingga
  • Sailing With You [END]

Hati yang Setia selalu merunduk-merendah mencari jalan-jalan terang dalam hidup, dan disaatnya LANGIT pasti akan menunjukan jalan Kesetiaannya. Cinta sejati tak akan lekang oleh waktu. Namun akan kembali dengan cara yang menakjubkan. Rakha dan Kinanti bagai layang-layang kembar. Terbang tinggi ke langit menembus awan tertinggi memohon diturunkan Cahaya untuk menerangi hati yang sepi pada Kerinduan yang tidak pernah bertepi. Diatas perahu di Selat Bali, Rakha hanya memandang gerak Langit, senyap dalam doa. Tiba-tiba tampak Langit Terbelah Cahaya Purnama. "Ooh Betapa Agungnya Engkau Maha Tercinta... " Kinanti berjalan menghitung langkah satu demi satu, menatap lembayung senja yang melintasi bebukitan hijau yang mulai menua. "Aishiteru Rakhaaa... Kamu dimana !!!" Langit pun terpaksa menangis... Bersama deru hujan yang datang kejar-mengejar dengan suara Angin yang berhembus kencang. "Kin ! .. KUA terdekat dimana? Bisa nggak kita daftar malam ini juga?" Rakha mulai serius menggoda pada pertemuannya yang baru berselang sekian menit. "Hayu, siapa takut?. Kita cari dulu muka yang tampangnya alim untuk jadi saksi nikah kita ya?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines