M O N A
  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2026
"jadi lo deketin gue cuma karena penasaran? dasar brengsek!" Teriakan Mona menggema di sepanjang koridor sekolah yang sepi. Seorang cowo berdiri di hadapan Mona dengan wajah mengejek, lalu terkekeh. "salah lo sendiri , bikin gue penasaran" Setelah mengatakan itu, cowo tersebut membalikkan badan dan berjalan menjauh. "Dasar brengsek lo Zidan!" Mona sangat kesal, dirinya seakan dipermainkan oleh cowo bernama Zidan. "Awas aja lo Zidan, gue bakal bales dendam" seringaian muncul diwajahnya. oOOo DILARANG PLAGIAT ‼️❌ CERITA INI DIANGKAT DARI CERITA HIDUP ASLI , YANG KEPO SAMA CERITANYA LANGSUNG CUSS BACA , JANGAN LUPA VOTE , COMENT AND FOLLOW AUTHOR . HAPPY READING GUYSSS.....
All Rights Reserved
#64
mona
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kesayangan Mas Juragan!
  • Hot girl
  • Where They All Look At [ END ]
  • Almost Married (END)
  • The Imperfect Señorita
  • Kembang Desa
  • SECOND TASTE
  • NINGRUM
  • R É G A L I S

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines