Shehrazat Untuk Sang Perwira

Shehrazat Untuk Sang Perwira

  • WpView
    Lecturas 119
  • WpVote
    Votos 5
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, nov 12, 2019
WpInfo
Ficción
Romance
Kelahiranku memang tidak pernah diharapkan. Tapi bukan berarti aku harus dibuang dan ditinggalkan. Aku tidak pernah berharap ada, tapi memang ini kehendak Tuhan.Tumbuh dengan luka itu sangatlah menyakitkan. Tanpa kasih dan cinta, layaknya seseorang yang benar-benar terbuang. Hanya nenek ku yang merawatku. Ibuku meninggal saat melahirkanku. Ayahku? jangan tanyakan dia. Dia pergi meninggalkan ibuku karena kehadiranku. Padahal hadirku juga karenanya bukan? Sejak kecil aku diajari hidup serba mandiri supaya bisa menjadi sosok yang tangguh. Ya, aku bercita-cita menjadi seorang TNI AD. Karena bagiku tugasnya mulia karena dapat menjaga negara sekaligus orang tercinta didalamnya seperti nenekku. Walaupun beliau sudah meninggal sejak aku berusia 18 tahun. Dan saat itu aku sedang akan menempuh pendidikan di AKMIL. Dan kelulusanku ini kuberikan pada ibu,nenek, dan pastinya ayahku yang telah meninggalkanku. Kubuktikan bahwa aku pantas mendapatkan yang terbaik ~ ARDHAN RUZAIN AZHARI Keraguan hanya bisa dipatahkan dengan keyakinan yang kita ciptakan. Sebaik apapun rencana kita, kita hanyalah perencana dan Tuhan penentunya. Kebahagiaan sejati bukanlah bagaimana kita tertawa lepas. Tapi bagaimana kita bisa membaginya untuk orang lain. Mereka yang terluka atau bahkan tumbuh dengan luka juga berhak untuk bahagia. Ketika hatinya tersayat oleh hal yang tidak tercatat. Hanya maaf yang bisa diucapkan,entah menghapuskan tidaknya luka hingga Tuhan berkata waktunya pulang. Sebuah sajadah untuk bersujud pasti selalu ada. Tapi bagaimana dengan bahu untuk bersandar dan mencurahkan semua air mata? Bukankah sekuat-kuatnya. manusia tetap juga bisa menangis, sekalipun itu seorang prajurit. Dan mungkin inilah jawaban Tuhan. Mungkin Tuhan mengirimkannya untukku sebagai imam sekaligus pelindungku. Dan mungkin aku dikirim Tuhan untuk menjadi Shehrazat baginya. Ya, menjadi penghapus luka hidupnya. Insyaallah,aku siap menjadi Shehrazat penghapus luka untukmu, Perwiraku, Imamku💛 ~ Aiyra Handojo Aswa
Todos los derechos reservados
#236
military
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Eliinaa
  • From Sorrow To Happiness || Mayor Teddy
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • Two Hearts, One Mission [Complete]
  • Bitch Daughter (Putri Kupu-kupu Malam) SELESAI✓
  • Rumah ke Rumah
  • Do'a Dan Penantian!🌻
  • Sweet Wedding With The Lieutenant
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido