"Kapan lo mau pacaran sama guenya?!"
Kata orang: jangan pernah jatuh hati sama cowok berinisial R. Namun, peringatan itu menguap begitu saja saat Belinda bertemu dengan Rendi. Belinda tahu mengejar Rendi adalah sebuah risiko besar. Rendi itu dingin, dan bermulut tajam. Tapi setelah Rendi menyelamatkannya, Belinda memutuskan satu hal: Rendi harus jadi miliknya.
Rendi tidak pernah meminta untuk menjadi pahlawan, apalagi menjadi pusat semesta seorang gadis seberisik Belinda. Baginya, Belinda adalah kekacauan yang nyata. Cewek yang dengan berani mengajaknya berpacaran di tengah perdebatan sengit yang sama sekali tidak romantis. Bagi Rendi, cinta seharusnya masuk akal. Itulah mengapa ia menganggap Belinda sebagai bencana berjalan. Cewek itu tidak memiliki filter, otaknya seolah tertinggal di rumah setiap kali mereka bertemu, dan obsesinya untuk menjalin hubungan terasa seperti lelucon yang buruk.
Rendi pikir ia bisa mengabaikan kehadiran Belinda yang heboh dan kurang waras itu, namun semesta seolah sedang bersengkongkol untuk menertawakan pertahanannya. Semakin keras Rendi mengusir, semakin sering takdir menyeret mereka ke dalam ruang yang sama. Di setiap tikungan jalan, di setiap masalah yang datang, semesta seolah terus mendekatkan mereka-memaksa dua kutub yang saling tolak-menolak ini untuk terus bersinggungan.
All Rights Reserved