Hujan di Akhir September

Hujan di Akhir September

  • WpView
    LECTURES 533
  • WpVote
    Votes 56
  • WpPart
    Chapitres 6
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., avr. 24, 2025
[ON GOING] "Di akhir September. Aku kehilangan dia untuk selamanya, seseorang yang kucinta." Haura menelisik jalanan yang diguyur hujan. Jalanan yang mengingatkannya pada kejadian satu tahun silam. Ketika seseorang yang dicintainya harus pergi untuk selamanya, membawa sekotak mahar untuk pernikahannya nanti. "Di akhir September. Aku melihat perempuan itu untuk pertama kalinya, dan aku jatuh cinta." Arash menembus guyuran hujan menuju perempuan yang terus menatapnya. Menatapnya namun dengan pandangan yang kosong. Arash tau, bukan dirinya yang sedang dilihat perempuan itu, namun sebuah kenangan. Dan dia ingin mengetahuinya.
Tous Droits Réservés
#95
haura
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Sailing With You [END]
  • Cafuné [✓]
  • Larasati : Mempelai Pengganti [END]
  • The Art of Loving You
  • trace of memories
  • Promise
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Saat Cinta Tak Terucap
  • DESIDERIUM (SELESAI)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • 31 Months for You (Revisi)
  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • AIRen
  • Badai Rasa (TAMAT)
  • SEIMAN SEPELAMINAN
  • Senandika : Titik Temu

Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ? ..... Ceklek Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable. "Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran. "Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh" What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ? Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image) "Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya. ..... "Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama." "No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi. "Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama" "Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun. "Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi. "Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi. Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya. "Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu