Taste
  • WpView
    Reads 144
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 30, 2026
Angin malam menghempas diri Menjelma menjadi duri Menusuk tanpa permisi Sembari berbisik, kau bukanlah bahaduri Aku masih berdiri tegak Meski hati teremuk tanpa jejak Aku masih berjalan Meski kaki tanpa telapak Jika hati bisa berteriak Mungkin dia sudah lepas Hilang tanpa tahu batas Sayangnya hati tak pernah tahu lintas 🍃🍃🍃🍃 Semestinya aku tahu kapan harus berhenti. Tidak lagi mengejarmu yang semakin bias. Menunggu semu menjadi bayangan. 🍃🍃🍃🍃 Aku menuangkan perasaanku sendiri ke dalam semua tulisan ini. Bagaimana luka dan cinta saling bersahutan satu sama lain.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • My Junior My Love ✔️
  • Luka & Lara (Completed)
  • SEMESTAKU [Segera Terbit]
  • Wounds in Marriage
  • Galang dan Naura ✔
  • REZANGGA
  • • EUTANASIA •
  • ALONE

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines