We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Can I Please Hug You?

Can I Please Hug You?

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 7, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Ketika pagi menyapa, ingin rasanya aku tetap memejamkan mataku dan melanjutkan mimpi indahku. Namun, dunia suram ini butuh satu cahaya yaitu "harapan". Mau tidak mau aku harus bangkit untuk membuat hidup suramku setidaknya masih memiliki satu harapan itu. Sebagai seorang pria dengan kepribadian aneh sepertiku sepertinya terlihat tak mungkin bagiku memiliki hidup yang indah. Aku seperti sudah ditakdirkan terlahir dengan keruetan di sekelilingku. Aku tak percaya dengan harapan. Bagiku sebuah kesalahan mempercayai sebuah harapan. Sampai aku bertemu dia...
All Rights Reserved
#718
melodrama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Unpredictable Love
  • Become Straight World (Hiatus!)
  • Renjana Semesta [✔️]
  • [HIATUS] Between Obsession And Love
  • My Life is My Secret - IMiaw
  • Fiona's Love
  • Blue Trapped In BL Novel
  • [End] Behind The Color

WARNING: Beberapa chapter terdapat adegan dewasa. Harap lebih bijak dalam membaca. Lili, hanya seorang gadis sederhana yang manis dan pendiam, tidak memiliki riwayat pacaran. Meskipun begitu, ibu nya selalu menyuruhnya untuk segera mendapatkan kekasih. Namun Lili terlalu pemalu, dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mendekati pria. Dan entah bagaimana, seorang pria mulai mengganggunya. ----------------------------------------- Rendra tertawa kecil, suaranya terdengar berat dan penuh godaan. "Jika kamu yang berinisiatif menciumku, aku akan pergi." Lili menggigit bibirnya, tangannya gemetar hebat. Matanya yang basah oleh air mata menatap Rendra dengan gugup dan takut. Hening sejenak. Napasnya tersengal ketika ia akhirnya mengumpulkan keberanian, mengangkat sedikit tubuhnya, lalu berjinjit untuk mengecup pipi pria itu. Namun, sebelum bibirnya sempat menyentuh kulitnya, Rendra sudah lebih dulu meraih tengkuknya, menariknya erat ke dalam dekapannya. Tanpa memberi kesempatan untuk mundur, ia menuntut lebih menyapu bibirnya dengan ciuman yang panas dan mendalam. Suara Rendra terdengar serak di antara napas yang memburu. "Bagaimana mungkin aku bisa melepaskanmu setelah dirimu sendiri yang memberikannya padaku, hm?" ---------------------------------------

More details
WpActionLinkContent Guidelines