Memories

Memories

  • WpView
    Reads 242
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 8, 2020
"Dobe, apakah ada obat untuk rasa rindu yang menyiksa?" Tanya Sasuke memutari bibir gelas dengan jari telunjuknya. Naruto tersenyum melihat sahabat karibnya itu, menghela nafas sebelum akhirnya menaruh gelas gelas yang baru saja Ia cuci ketempatnya. "Tentu. Temui orang yang Kau rindukan maka rasa rindu itu akan terobati dengan sendirinya" Sasuke menghentikan kegiatannya dan melihat dengan seksama menatap sahabatnya yang sedang mengeringkan piring dengan kain lap. "Bagaimana jika orang itu sudah tidak bisa Kau temui?" Naruto terdiam. Menatap Sasuke yang kembali memainkan jari telunjuknya dibibir gelas. Sudah 4 tahun dan Sasuke belum bisa menerima semua kenyataan hidupnya. Pemuda bermata biru safir itu kembali tersenyum. Sasuke memang begini. Selalu datang meminum kopi di kedai miliknya -CoffeZu Naru- jika sedang meminta pendapat seperti sekarang. Naruto yakin seseorang telah meyakinkan Sasuke untuk bangkit. "Maka jadikan waktu waktu bersamanya menjadi kenangan. Dengan begitu Kau akan selalu mengingatnya meski tidak bisa menemuinya" ujar Naruto dengan senyuman menawannya. Sasuke terdiam. Naruto yang biasanya tersenyum lebar kini hanya tersenyum simpul. "Lalu bagaimana dengan masalahku?" Sasuke pasrah, benar benar tidak tahu apa yang harus Dia lakukan. Menjadi biang masalah untuk orang orang disekitar yang selalu mendukungmu adalah hal yang paling buruk. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Uchiha bungsu. "Temui Himeka-chan. Dia akan bahagia melihatmu. Aku tahu kau menyesal dan ingin merubah segalanya. Tak apa, Aku selalu mendukung dan akan ada untukmu, Teme!" Sasuke tersenyum mendengar penuturan sahabat sekaligus satu satunya orang yang selalu ada untuknya itu. Mengangguk mantap, Sasuke membalas genggaman tangan Naruto yang menguatkannya "Arigatou, Dobe" senyumnya membuat sang mentari Konoha -Uzumaki Naruto- menyipitkan mata memperlihatkan gigi putihnya. 'Good luck, brother' Naruto menatap kepergian sahabatnya yang bersemnagt meninggalkan kedai.
All Rights Reserved
#557
memories
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Naruto : See The Future
  • Naruto : The Turn Of A Hero
  • Naruto : Power To Heal And Destroy
  • Sweet Creature
  • What Happens?
  • (BL) Baby You Don't Know ME [Narusasu]
  • Naruto : Uzumaki Sharinggan
  • Naruto : Anak Ramalan
  • Naruto : Uchiha Legendary Lineage
  • Naruto : Punishment By Branding

Update Di Usahakan Setiap Hari "Tuan Hokage! Maksudmu, perjalanan waktu?" Minato menatap lelaki tua itu dengan heran di matanya yang berbinar, membuat Jiraiya kecewa. "Aku lupa betapa nerd anak ini." "Itulah satu-satunya penjelasan yang bisa saya berikan kepada Anda saat ini, dengan apa yang telah dijelaskan oleh shinobi, dia dipindahkan ke sini menjelang akhir Perang Ninja Besar Keempat." Tsunade memucat, "F-keempat? Kita masih di urutan ketiga!" Hiruzen bersenandung mengakui, "Saya tahu ini sulit untuk dipahami, itulah sebabnya saya memanggil shinobi yang bersangkutan untuk maju." "Kau boleh masuk, Naruto." Pintu ruang bawah tanah terbuka dan masih memar dan babak belur remaja pirang melenggang ke dalam ruangan. Mata safir mengamati ruangan, emosi menari-nari di sekitar bola saat dia melihat penghuni ruangan. Dia mengenakan jubah rumah sakit putih, satu lengannya tertiup angin kecil yang dipancarkan dari ventilasi di atas kepala, "Hei, Nak." Naruto menatap Tsunade, "Nenek Tsunade!" Dia berseri-seri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines