We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Eurycea

Eurycea

  • WpView
    Reads 388
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 28, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Hidup memang tidak seindah Drama Korea.Hidup dapat membuat orang jatuh bangun, bahkan hidup mampu membuat orang kuat menjadi hancur berkeping-keping tanpa sisa. Itulah yang Cea rasakan, kedatangan orang-orang dari masa lalunya mampu membuat gadis ini menjadi hancur berkeping-keping. "Aku sudah tidak ada harapan untuk hidup. Semuanya telah pergi meninggalkanku seorang diri, bahkan bintang dan bulan sudah tidak mau menemaniku. Lebih baik aku kembali menjadi debu agar aku tidak merasakan kesakitan ini" Tuhan, apakah aku masih bisa bertahan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • DEMIGOD
  • Sejenak Luka
  • S.H.M.I.L.Y
  • Juan [REVISI]
  • Epiphany [Completed]
  • About kevin (End)✅
  • Tertinggal
  • HURT

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines