A MOTHER SOON

A MOTHER SOON

  • WpView
    MGA BUMASA 11
  • WpVote
    Mga Boto 0
  • WpPart
    Mga Parte 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Mon, Nov 11, 2019
WpInfo
NON-FICTION
Aku hamil. Dan aku belum menikah. Ya, inilah kekacauan terbesar dalam hidupku yang dulunya terencana. Hamil disaat karirku sedang beranjak naik adalah bencana. Ini benar-benar diluar kehendakku. Hubunganku dengan Ibuku tidaklah baik. Well, tepatnya dengan semua anggota keluarga ku, sih. Jadi anggap saja aku sebatang kara di hiruk pikuk kota ini. Selain itu, aku juga tidak pernah lagi mengontak lelaki yang ikut serta dalam proses pembuatan janin ini sejak penolakannya yang sangat menyakitkan. Sebenarnya aku memberitahunya bukan karena aku takut akan biaya membesarkan seorang anak manusia atau aku ingin menikah dengannya. Selain ingin dia mengakui janin ini, aku juga ingin tahu reaksinya. Tapi yah, ternyata hubungan kami selama 2 tahun ini adalah kesia-siaan belaka dan kata-kata manis yang ia ucapkan tentang masa depan hanyalah omong kosong. Huft, untung aku wanita setrong dan independen. Jadi tidak mengenaskan amat nasibku.
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • TEOLOGI CINTA
  • Silence Of Tears (TERBIT)
  • PENCARIAN SANG AHLI WARIS THE MORGAN
  • ISTRI SETELAH CINTA
  • My Baby Without Father (Di Pindahkan Ke Dreame/Innovel)
  • Surrogate
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • My Baby's Father [New Version]
  • Angel To Raya (END)

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman