Destivero

Destivero

  • WpView
    Reads 129
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 9, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Tagsataa
"Destiyana agyska,seorang perempuan berkepribadian BAD,tidak suka di atur,dan pembuat onar di sekolah. Dibalik sifat buruk nya desty memiliki banyak masalah dalam hidupnya yang membuat desty menjadi seorang BAD. tetapi perlahanan desty mengubah sifat buruknya,setelah ia bertemu kaka kelas berhati beku di sekolahnya." "Verofareliyo,seorang pria berperawakan tinggi dan di anugerahi ketampanan dalam dirinya. Vero memiliki keperibadian ketus,dingin,dan tidak suka jika ketenangannya di ganggu. Vero juga memiliki sifat pintar,cerdas dan tegas sehingga ia di beri jabatan osis di sekolahnya. Dan tidak sedikit wanita yang mendambakan seorang vero dan desty termasuk dalam hal itu." Akan kah desty mampu mencairkan dinding es di hati vero?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Realita & Waktu
  • Bad boy is a good boy for me [END]
  • Refal n Adzkiya
  • My Teacher [END]
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • The Don's Obsession (HIATUS - VSOO)
  • Axevier
  • Resep Cinta To Senior
  • LOVE AND HATE? (pedas Or bar bar)
  • BAD BOY VS COOL GIRL [On Going]

Kanaya Nathania merasa dunianya kehilangan warna. Sebagai mahasiswi DKV tingkat akhir, ia justru membenci kanvasnya sendiri. Di bawah tekanan ekspektasi di Jakarta, Kana melarikan diri ke Bandung dan menetap di rumah neneknya. Di sana, ia bertemu Kalandra Javero Alvarendra, tetangga sebelah rumah yang hidupnya selalu diatur oleh perhitungan matang dan keteraturan. ☕☕ "Kenapa kamu repot-repot peduli, Ver? Hidupku ini cuma sketsa rusak yang mau aku buang," bisik Kana. Javero menyesap sisa kopi pahitnya. "Menurut saya, nggak ada manusia yang rusak sampai harus dibuang, Kana. Kamu cuma lagi kehilangan arah." Kana tertawa getir. "Dan kamu pikir kamu bisa ngeberesin hidupku?" Javero melangkah lebih dekat. "Saya nggak berniat ngeberesin kamu. Saya cuma mau memastikan, pas kamu mutusin buat jalan lagi nanti... kamu nggak perlu sendirian ngitung detiknya." Di tengah kejaran skripsi dan kenyataan yang mencekik, keduanya belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan hanya dengan kepala dingin.

More details
WpActionLinkContent Guidelines