Kemah Dan Tenda

Kemah Dan Tenda

  • WpView
    LETTURE 65
  • WpVote
    Voti 1
  • WpPart
    Parti 6
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione dom, nov 17, 2019
WpInfo
Narrativa
Storie d'Amore
PTA salah satu kegiatan yang sangat di nanti bagi siswa - siswi pecinta kegiatan Pramuka. Tidak bagi seorang Sekar intanawati yang malas ketika melakukan kegiatan kepramukaan yang sesekali mengeluarkan tenaga extra. Apa jadinya ketika Sekar bertemu Ghibran Zaidan Atharafiq pemuda murah senyum, tegas dan bertanggung jawab mengubah pandangannya tentang Pramuka serta mengubah sifat buruknya "Kenapa harus makan di sini? Ke tenda kan bisa" Kata Sekar ketus "Namanya juga Pramuka, yah gini" jawab Ghibran " Hmm, terserah. Pokoknya aku gak suka kak " sambung Sekar "Iya tau, tapi ini wajib buat nilai kamu juga" timpal Ghibran Hayyy para readers saya membawa cerita khusus edisi pramuka yeayy Penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Langsung saja di baca, jangan lupa meninggalkan jejak😄 Warning!!!!! Typo bertebaran Bahasa amburadul
Tutti i diritti riservati
#30
pramuka
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Cinta Alazka di Paskibra
  • ANNISA {ON GOING}
  • GHAVARI
  • Sealen
  • PaSuTrik (Pasukan Suami-istri Prik)
  • My Duchess / End
  • Sahabat🍂 [COMPLETED]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti