Menghilang Sementara

Menghilang Sementara

  • WpView
    Lecturas 15
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, dic 25, 2021
WpInfo
Ficción
Misterio
No copy my story😼 "Ma..Pa...Ini aku Wulan anak kalian." Wulan si gadis berumur 16 tahun itu menangis sedari tadi karena orangtua yang ada didepannya bertindak seolah tidak ada siapa-siapa didepan mereka. Ia seperti tak terlihat. Ini aneh. Kemarin Wulan bersama 6 temannya pergi mendaki gunung. Tapi yang anehnya, hari ini Wulan berada dirumahnya. Ini sungguh aneh. Tapi semua ini terasa nyata. Wulan berjalan ke kamarnya dengan langkah lesu. Ia melangkah tapi ia merasa langkahnya begitu ringan seolah ia tak menapak. Ini sungguh sangat sangat aneh.
Todos los derechos reservados
#258
pendakian
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Dark Tales From Deep In The KEBUN DJENGKOL (TAMAT)
  • GHOST
  • PERCAYA? [END]
  • DIA (Completed)
  • Ghost Class
  • No Soul : Beyond The Gate
  • She's In The Rain; Jung Eunha
  • S-FAMILY : Keluarga Itu Adalah Keluarga
  • Nightfall
  • Pendakian Berujung Maut

(BASED ON TRUE EVENT) **** Ini adalah kisahku saat mengikuti perkemahan PMR Regional provinsi. Dimana lokasi yang ditempati merupakan tempat pembantaian terbesar PKI dimasanya. Kisah kelam korban di masa lalu membentuk entitas kengerian ditempat itu. Sosok-sosok yang masih tak terima saat dibantai karena ketidakadilan memenuhi lokasi area bekas Belanda tersebut. Disini mereka menanti. "Kebun Djengkol". **** BRAKKK... Tiba-tiba pintu itu menutup dengan sendirinya. Spontan aku yang kaget langsung berlari menjauhi. Ketika melewati tembok jalan keluar bilik kamar mandi, aku tak sengaja menabrak seseorang. "Cuk!!!" Awalnya pemuda itu sempat marah, namun ekspresinya berubah saat melihat wajahku yang sudah pucat pasi. Aku pun bengong sepersekian detik. Bukan, bukan karena terpesona melihat wajah orang tampan layaknya adegan film-film romantis remaja. Namun aku berusaha menenangkan diri dari sisa ketakutan. Pemuda itu menatapku dengan ekspresi yang susah dimengerti. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya kemudian. "Nggak apa-apa. Maaf nggak sengaja nabrak". "Kenapa? Habis liat hantu ya?" "Ah ituu ..." "Kuntilanak ma setan bocahnya masih ngeliatin kamu tuh." Ucapnya santai. Dadaku kembali berdegup kencang sambil mengumpat lirih. Kini aku ganti memandangnya lekat. Dan pemuda itu membalas reaksiku dengan menyipitkan mata. "Apa?" Tanyanya kemudian. "Kamu bisa liat kan 'mereka' kan?" "Liat apa?" Aku sedikit melangkah mendekatkan diri sembari berbisik "Demit" Pemuda itu sempat terbahak. Lalu tiba-tiba menjulurkan sebelah tangannya. "Aku Aji." ****

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido