Benci
  • WpView
    Reads 121
  • WpVote
    Votes 39
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 19, 2019
Berawal dari pertemuan tidak sengaja sampai berakhir dengan dendam yang tidak pernah berakhir. Hanya dendam,dendam dan dendam itulah yang ada di pikiran mereka berdua. "Lo ga takut? Disini kita cuman berdua?" ujar Dipta. "Kalo kita cuman berdua dan gada siapa siapa terus kenapa!?" Ujar Caitline. "Gue bisa ngapa ngapain lo" ujar Dipta. "Cuman cowo cemen yang berani sama perempuan" Ujar Caitline. Apakah mereka akan selalu membalaskan dendam satu sama lain? Ataukah salah satu dari mereka ada yang jatuh hati? Entah Dipta atau Caitline. "Sorry lo bukan levelan gue" Ujar Dipta. "Kamu kira, kamu itu levelan aku? Sorry juga ya!" Ujar Caitline. Apakah mereka di takdirkan untuk bersama? Ataukah cinta mereka hanya bertepuk sebelah tangan? Atau mungkin mereka hanya di pertemukan tapi tidak untuk di satukan:))
All Rights Reserved
#469
bertemu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINTA ITU INDAH YA?
  • AFIKA [ END✔ ]
  • Inside You
  • LOVE BETWEEN WARSZ
  • Another Side | Lee Jeno
  • FRIENDZONE
  • DIA PERGI?!
  • DIFFERENT TWINS [ END ]
  • CEZALINE

"Eh Nad," Ziro memanggilnya, suara cerianya penuh semangat. "Lo mau tau nggak persamaan lo sama bokap gue?" Nadira yang sedang sibuk mencatat hanya mengerutkan kening, sedikit terganggu. "Gak tahu, dan gak mau tahu," jawabnya cepat tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. "Naad!" Ziro merengek, mencoba menarik perhatian Nadira. "Iya, iya, gak tahu tuh, apaan tuh persamaannya?" Nadira mengerutkan dahi, tidak sabar dengan pertanyaan Ziro. "Gaada habisnya," jawab Ziro sambil tertawa, dan Nadira hanya bisa mendengus kesal. "Hahaha, bisa aja lo," Nadira tertawa sedikit, meski suaranya terdengar sedikit dipaksakan. Sejak kedatangan Ziro, cowok baru di sekolah, Nadira merasa hidupnya semakin kacau. Mereka berdua memiliki persamaan yang tidak pernah terduga. Mulai dari perseteruan kecil yang penuh ejekan hingga perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka. Akankah mereka berakhir seperti yang Nadira harapkan, atau ada sesuatu yang lebih besar yang menanti?

More details
WpActionLinkContent Guidelines