
"Lo ngapain sih ngintilin gue kemana-mana? Ga capek? Gue aja cape lo ikutin mulu!" Natal memandang Delvian dengan tatapan jengah, namun yang ditatap hanya cengengesan tidak jelas. "Gue gak capek tuh, malah gue senang bisa liat masa depan gua tiap detik" Ucap Delvian santai "Hah? Masa depan? Ngimpi lo jadi masa depan gue. Kita itu Musuh! Tau Musuh kan? Iya lo tuh musuh gue. Titik." Natal kembali melangkah namun kakinya seketika berhenti ketika kalimat yang dilontarkan Delvian "Iya musuh, My perfect enemy always. I love u musuh" Ucap Delvian genit. "Najis" Ketus Natal, pergi meninggalkan Delvian.Todos os Direitos Reservados
1 capítulo