Derah Larangan

Derah Larangan

  • WpView
    GELESEN 18,147
  • WpVote
    Stimmen 456
  • WpPart
    Teile 5
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert So., Sep. 13, 2020
Cerita ini berdasarkan pada mitos yang pernah saya dengar. Mitos turun temurun yang saya tidak tahu pasti kebenarannya. Cerita ini sudah tidak murni lagi sebagian besar cerita sudah saya ubah dengan khayalan saya sendiri jadi di mohon untuk bijak. jika ada kesamaan nama, tokoh, tempat dan kejadian semua hanya kejadian tidak ada unsur kesengajaan. __________________________________________________ _________________________________ "Sudah susah payah datang. kenapa buru-buru pergi ?" Ucapnya di iringi dengan seringai tawa yang sangat mengerikan. aku bergidik merinding. Nafasku tersengal senggal berusaha mencari pintu untuk segera kabur dari rumah terkutuk ini. tapi yang ku temukan adalah sebuah peti mati. Sementara wanita bersanggul itu semakin keras tertawa. "Sebentar lagi cah ayu..." lanjutnya pelan
Alle Rechte vorbehalten
#151
hororr
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Petaka Kesempurnaan
  • GATE OF DESTINY
  • KUTUKAN (SUDAH TERBIT)
  • Gentayangan di Kereta Terakhir
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah
  • Warisan Gandari
  • Tujuh Hari Setelah Ibu Pergi [SEGERA DIFILMKAN]
  • HUTAN BELAKANG SEKOLAH (End)
  • Di balik keindahan CURUG HORDENG
  • Hantu Naci Piuu! [END]

"Aku masih mengingat jelas bagaimana kamu tersenyum saat pesta sore itu. Tatapan mata yang begitu hangat dan ramah. Tampak teduh dan hangat seperti matahari sore." Lirih Sharen memegang dadanya sendiri. Bahkan sampai sekarang dia masih merasakan degup jantungnya yang cepat setiap mengingat sore itu. 'Dia milikku, bukan milik mu' kursi yang di duduki Sharen kembali bergerak. "Aku yang mendapatkannya" mata Sharen kembali menyalang, raut wajahnya penuh dengan emosi. 'Dia hanya mengenal ku, tidak mengenal si buruk rupa' raut tawa yang lebar dan menyeramkan membuat Sharen semakin menyalang marah. Tongkat yang menjadi pegangannya kini kembali dia lemparkan pada kursi di sebelahnya. Racun yang sebenarnya bukan bahan kimia buatan ataupun zat pertahan diri pada makhluk hidup. Melainkan cinta dan kasih sayang yang diberikan. Xr.Nyy.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien