My Katedral Appa

My Katedral Appa

  • WpView
    Membaca 41
  • WpVote
    Vote 1
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Nov 23, 2019
Ayah ku tidak sesempurna yang orang bayangkan. Setidaknya itulah argumen ku sebelum dia datang saat salju pertama turun. Udara dingin yang kurasakan terganti dengan hangat yang menjalar melalui pelukannya. Meski begitu aku dan ayah berbeda. Ada dinding tak kasat mata yang memisahkan kita. Meski begitu aku tetap bersyukur Tuhan ku menyampaikan keinginan ku kepada Tuhan ayah untuk bisa hidup bersamanya. Welcome to my hurt story'
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Sehangat Maaf Mentari (Tamat)
  • Unperfect [END]
  • Rainy Day (complete)
  • Our Wedding [END]
  • Paradise
  • hope [END]
  • Juan [REVISI]
  • Sepotong Kekosongan [ THE END ]✔︎
  • Shena Aquella {SELESAI}.
  • SECOND LOVE [COMPLETED]

Aku ingin semuanya ini cepat selesai. Aku ingin pergi. Aku capek. Semua orang selalu bilang kalau aku harus kuat demi anak ini, lalu kalau semua demi anak ini, lalu bagaimana dengan aku sendiri? Bagaimana dengan perasaanku, bagaimana dengan hatiku, bagaimana dengan rasa kesakitanku, bagaimana dengan rasa perihku? Apa itu semua tidak penting? Kenapa semuanya harus demi anak ini? Aku bahkan tidak menginginkannya. Sungguh, aku tidak menginginkan semua ini. Tapi kenapa harus aku yang menanggung rasa sakit ini? Kenapa harus aku yang menanggung penderitaan ini? Apa ini adil? Apa salahku sampai harus dihukum seperti ini? Sementara lelaki brengsek itu pasti tidak merasa apa yang kurasakan sekarang I've ruined every single part of him. Her mental, her physic, her future, and her dreams. I know I have to fix what I've done before, but I don't know how Cover by: Canva

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan