Kepercayaan itu seperti Kaca

Kepercayaan itu seperti Kaca

  • WpView
    Reads 115
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 23, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Aku adalah anak seorang perwira yang memiliki pangkat yang tinggi, sedangkan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Ayahku ternyata memiliki pujaan hati baru yang membuat ibuku menjadi di duakan. Ayahku berapa kali minta cerai kepada ibuku, akan tetapi ibuku tidak mau. Kalau ayah tidak kembali ke rumah mungkin aku tidak akan mendengar mereka berdua marah terus. Akan tetapi ayah selalu kembali ke rumah dan ingin mengusir ibu. Ayah melakukan terebut dikarenakan pujaan hatinya ingin tinggal di rumah yang mewah. Ibuku mati-matian tidak mau. Ayah memang tidak bisa melakukan tindakan kekerasan kepada ibu, karena jika dia melakukan hal tersebut maka perjalanan karirnya selama 25 tahun akan berakhir. Karena itu aku sungguh berterima kasih kepada Dhanes yang mau mengajakku keluar untuk sekedar melupakan kisah sedih yang ada di rumah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Dua cangkir satu Meja
  • ALBARISUS ✔
  • 𝐁𝐫𝐨𝐤𝐞𝐧 𝐇𝐨𝐦𝐞? {𝐄𝐍𝐃}
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • Alisa's Story
  • AIRA [On Going]
  • NADIRAEFAL
  • Rachel
  • Become an Extra or Main Character [END]

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines