Lu kira ini novel romantis biasa? Salah. Ini jurnal. Namaku Arka. 22 tahun. Operator SPBU shift pagi. Bau bensin tiap hari, gaji pas-pasan, hati udah patah 4x. Sumpah nggak mau jatuh cinta lagi. Sampai aku kenal dia. Nara. 25 tahun. Teman kuliah kakak sepupuku. Awalnya cuma iseng minta kenalin. Lama-lama jadi "Adik vs Tante". Candaan yang nyimpen rasa. Mabuk jam 3 pagi yang ngaku sayang tapi nggak dijawab. Suapan mie di saat lambungku kram karena menghukum diri sendiri. Pelukan pertama yang nggak punya status. Setiap Bab yang kalian baca = setiap malam aku berantem sama logika sendiri. Ngetik sambil nahan air mata. Nulis sambil ngikhlasin. Karena aku sadar... ada orang yang emang cuma ditakdirkan jadi doa. Bukan jadi milik. Aku nggak ngejar Nara sampai akhir. Aku milih waras. Milih logika. Milih nulis. Endingnya nggak ada "mereka hidup bahagia selamanya". Endingnya cuma: aku di meja kerja, ngetik kalimat pertama buku ini sambil senyum. Karena cinta paling tulus itu bukan memiliki. Tapi mengabadikan. Dan mendoakan. **CATATAN AUTHOR TENTANG SUBGENRE** Subgenre "Kesehatan Mental dan Neurodiversitas" gue pilih karena novel ini angkat isu overthinking, self-harm berupa puasa 5 hari, dan coping mechanism nggak sehat yang dialami Arka. Untuk bagian "Neurodiversitas" seperti ADHD, Autis, Bipolar, dll → tidak ada karakter di cerita ini yang didiagnosis medis oleh dokter ya. Jadi fokus utama cerita ini ke kesehatan mental akibat trauma patah hati + pendewasaan. Gue nulis ini dari pengalaman pribadi. Kalo ada yang relate + lagi ngerasain hal sama, lu nggak sendirian. Tapi kalo butuh bantuan profesional, jangan ragu cerita ke psikolog/konselor ya 🙏
More details