Berkemah di Neraka

Berkemah di Neraka

  • WpView
    Reads 68
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Tue, Dec 10, 2019
WpInfo
Non-Fiction
Ketika dunia seakan meninggalkan sisi baiknya, dan berubah menjadi dataran neraka yang sangat panas. Seorang anak tak berdaya menjadi korban pembantaian dari makhluk biadab itu. ♥Dikembangkan dari seri Cerpen "Berkemah di Neraka" karya Ganjar Nur R ♥Penasaran dengan Kisahnya? Tunggu kehadiran setiap bagiannya jika Author ada kesempatan
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • MY LADDY BOSS  ||  HEERINA
  • ✧Toples Harapan✧
  • DEPRESSION
  • PAPERFLAKES
  • [✓] The Right Heartbeat
  • S1 Transmigrasi NOMIN‼️
  • CERPEN
  • Red Flag Boy's - Jenrina x Jaeminjeong [END]

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines